Enggak enakan bikin susah diri (?)

Enggak enakan bikin susah diri (?)

 


Gaenakan bikin susah diri(?)

Karena takut enggak enakan, kita jadi takut buat menolak. Apapun itu.

Lingkungan sosial kita telah didominasi pada suatu paham yang sebenarnya merepotkan sekaligus bikin kehidupan yang sudah ruwet ini jadi berlipat ganda.

Kita pasti berada di posisi dan kondisi yang mengharuskan kita untuk angguk-angguk saya seraya mengiyakan, sebab dalih ‘enggak enakan’

Kenapa bisa begitu?

Setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya kita bisa untuk bertindak atas kemauan kita, menerima atau menolak suatu permintaan dari orang lain. Tapi pada kenyataannya tidak mudah. Meskipun kita sudah berani menolak terang-terangan terhadap sesuatu yang sekiranya menyusahkan diri kita sendiri, sayangnya orang lain cenderung tidak menerima penolakan kita.

Contoh kecilnya kayak meminjamkan uang ke orang lain padahal kita sendiri lagi kesusahan, sebabnya karena (Gaenakan). 


Kita ambil saja contoh kasus lain misalnya,

si A ingin minta untuk ditemenin ke suatu tempat (sebut saja si A punya kerjaan dan butuh ditemenin). Nah, disaat permintaan dari Si A itu sampai ke Si B, ada beragam bentuk respon psikologis yang bakal diterima oleh Si B. Pertama mungkin si B bakal menolak secara halus dengan alasan dia juga punya kerjaan. Kedua Si B memberi jawaban gantung antara menolak atau menerima permintaan si A. Dan ketiga si B akan mengiyakan karena tidak enakan, takut jika menolak permintaan si A.

Respon-respon itu seringkali bikin kita (yang berada di posisi si B) mengalami pergulatan pikiran antara mengiyakan atau menolak, semacam kondisi dilematis yang ketika salah menjawab kita bakal kena batunya. 

Kenapa respon atas perasaan seperti itu bisa terjadi? Ya sudah pasti karena rasa ‘enggak enakan.’ Tapi kenapa kebanyakan dari lingkungan sosial kita masih tetap mengamini paham atas kondisi itu? Bukankah kita berhak menolak tentang apa yang harus kita lakukan?

: tapi kalo kita menolak permintaan dari orang lain apapun itu bentuknya, takutnya ke depan malah kita lagi yang susah, karena orang ngelakuin hal yang sama kayak kita.

: ya berarti benar kan, penerimaan dan pertolongan kita terhadap permintaan orang itu terjadi bukan karena niat yang tulus, tapi karena gaenakan aja. Coba kalo tulus, nolongin mah nolongin aja, bantuin ya bantuin juga.

Kenapa mesti harus saling meyakini sesuatu yang “ketika aku bantuin orang lain, orang lain juga bakal kayak gitu ke aku.” 

Balasan atas kebaikan maupun keburukan kita itu enggak diukur dari hal-hal seperti itu. Ya kalau sudah saatnya kita bantu, kalau enggak bisa ya tolak saja. Terus yang minta bantuan tapi ditolak ya enggak usah sampai menganggap kalau itu sebuah kesalahan.

Jika penolakan dianggap sebagai sebuah bentuk kebencian, lalu apakah ia yang tidak dapat menerima “penolakan dari orang lain” adalah yang paling dibenci(?)

Tidak perlu merasa enggak enakan kalo itu malah bikin kita kesusahan. Ada saatnya kita harus menolak karena kita tidak bisa. Ada saatnya kita menerima penolakan dari orang lain, maka terimalah.


Reactions

Post a Comment

0 Comments