Dua Puluh Empat - Sebuah Refleksi Usia

Dua Puluh Empat - Sebuah Refleksi Usia


"Nanti kalo pulang mau nulis ah, udah lama juga blog enggak update" Begitulah ucapku sejak berbulan-bulan lalu. Namun itu semua terealisasikan sejak tulisan ini dimuat. Bagaimana tidak, tiap kali sampai rumah dini hari, jangankan mau menulis berjilid-jilid atau sedikit menuangkan keresahan, sepatah kata pun tidak. Bahkan laptop dihidupkan, aku kembali tenggelam pada lini masa yang begitu ramai atau merebahkan diri di kasur yang bahkan tidak terlalu empuk untuk melihat kicauan-kicauan serta perdebatan warganet di dunia mayal. Begitulah singkat cerita—pembatalan menulis—sejak beberapa lama.

Sampai tiba di kalimat ini, aku seperti berselancar pada tahun-tahun ketika terbiasa merenungi sesuatu yang lampau dan menikmati resap-resap kesepian pada kata-kata serta puisi. 
Dulu aku begitu antusias ketika menemukan sebuah bacaan baru, diksi baru, atau mengenal para penyair dan filosof yang agung bersama karya-karyanya. Sekarang jangankan terlena dalam cerita-cerita fiksi ataupun puisi, kadang mendengarkan musik pun cuma sekadar ada bunyi-bunyi saja agar tidak selalu sepi. Entah bagaimana bisa semua itu lenyap seolah  semuanya sudah selesai.

Tapi, apakah semuanya bisa berulang?
Bisakah kita menyusun kembali semua yang berserakan di masa lalu dan merapikannya kembali di masa ini?
Bukankah istirahat itu sudah terlalu panjang? sampai kita lupa untuk memulai kembali.

Pada hari ini, seperti biasa setelah terlalu lama menghiatuskan diri pada sedikit-banyak rangkaian kata, aku selalu ingin menulis sepanjang-panjangnya cerita. 

Bagaimana kabar hari ini? Kalian? Aku?
Beberapa ocehan di atas tadi bisa disebut sebagai sebuah refleksi terhadap rasa malas yang berlarut-larut, serta rasa nyaman yang seperti jebakan. Jadi bagaimana? Apakah pembacaku masih ada?

Tahun ini, aku menginjak usia 24 tahun, itu sudah lewat dua bulan lalu. Harusnya aku menulis ini sejak hari di mana itu tiba. 24 tahun bukan waktu yang sebentar, ada banyak hal yang telah dilewati, dari yang terburuk sampai yang terbaik, bahkan hal-hal yang remeh dan biasa saja juga tidak luput dalam kurun waktu itu.
Kadang ya, membicarakan masalah usia itu selalu erat kaitannya dengan pencapaian terhadap sesuatu yang bersifat duniawi, padahal pada dasarnya hidup sampai hari ini adalah sebuah pencapaian yang teramat sangat.
Ya, kadang timbul rasa malas juga kalau hidup pada usia tertentu harus mencapai titik pencapaian tertentu juga. Orang-orang bisa dengan sangat mudahnya mendikte hidup kita di usia tertentu untuk bisa mencapai sesuatu yang total—berdasarkan stigma. Ini juga menjadi bahan untuk bisa jadi baham perbandingan atas pencapaian terhadap kita dengan yang lain.

Dua puluh empat tahun, waktu yang tidak sebentar memang. Rasanya seperti baru kemarin aku belajar bersepeda, aku masih mengingatnya jelas. Sepeda kecil berwarna merah dengan dua roda kecil di sisi roda belakangnya, butuh waktu dua hari untuk aku benar-benar lancar mengendarainya tanpa roda kecil itu. ah, senang sekali rasanya mengingat sesuatu di masa lampau.

"jika  waktu diputar kembali, apa yang akan kamu lakukan?" 

kita mungkin sering mendapatkan pertanyaan itu dari orang lain, bisa jadi pertanyaan itu hanya sebagai sebuah khayalan, atau bisa juga itu sebagai sebuah pengharapan. Tapi coba kita cerna lagi, jika seandainya itu memang bisa terjadi, apa yang akan kita lakukan?

Ini, sangat menarik. Jika dijawab secara spontan kita mungkin memiliki jawaban-jawaban yang terkesan konyol dan unik, tapi coba resapi lagi pertanyaanya. Sampai sekarang aku tetap memilih untuk tetap seperti ini, biarkan masa lalu tetap berada di sana sebagai bentuk pengingat terhadap diri kita secara alami tanpa membawa penyesalan-penyesalan terhadap diri kita di hari ini. Biarlah kita belajar terhadap sesuatu yang menurut kita salah pada waktu itu, dan tetaplah kita belajar memahami bahwa hal-hal yang kita anggap benar pada masa lalu bisa jadi salah di masa ini.

Entah sudah sejauh mana tulisan ini, aku bahkan tidak tahu apa yang aku bicarakan. Setidaknya, ada yang mesti disampaikan meskipun cuma satu kata, ada yang mesti dicatat di hari ini untuk jadi sesuatu yang pantas diingat di hari nanti. 

Aku selalu percaya bahwa menulis adalah merawat ingatan. Kelak, aku akan pergi berkunjung lagi ke dalam tulisan ini saat merasa kosong, hampa dan merasa sesuatu dalam diri kita utuh menjadi separuh.

Selamat memulai kembali untuk apapun, semua berhak menjadi seperti apa yang ia diinginkan, bukan seperti apa yang diinginkan dunia.

Aku tetap pada pilihan yang sama, Merangkai aku menjadi AKU


Tabik.

Reactions

Post a Comment

0 Comments