Dibunuh Waktu

Dibunuh Waktu


Waktu membunuh kita semua, perlahan-lahan sampai kita benar-benar kehilangan.

Kau mengaminkan doa-doa paling indah, aku dibelenggu waktu-waktu yang berdarah.

Kita meminta banyak kepada Tuhan, dan permintaan kita dikabulkan. Namun dalam jarak-jarak bahagia yang tipis antara duka, kita dipaksa tabah atas realita.

Peristiwa seringkali mengajari kita arti banyak hal, namun kita terbuai dan terlena, berduka dan bersuka cita.

Tapi apa yang paling berharga dalam hidup?

Ribuan maaf mengaung dalam langit-langit kamarmu, ribuan pinta mengobrak-abrik semesta kepalaku. Andai setiap detik waktu bisa aku simpan dalam loker kerja, maka aku akan punya banyak waktu untukmu ketika semua usai.


Kadang ada yang tidak sempat kita pikirkan, bahkan untuk diri kita sendiri. Rasa ketidakcukupan waktu selalu mengantui malam-malam panjang, dan aku tetap kehilanganmu, juga kehilangan diriku.

Entah apa yang bisa menyeimbangi pemberian dan permintaan dalam benak kita masing-masing. Jarak seperti ilusi, ia menjauhkan raga namun tidak pernah memisahkan hati.

Lalu apa arti saling memeluk, jika doa dari jauh bisa terus mengikat?

Apa arti bertatap mata, jika dalam hati kita masih tersimpan benih-benih cinta?

Kita mengutuk hidup dalam rantai yang mengikat kita pada realita, bahwasanya hidup memang selalu dijejali hal-hal kecil dan rumit.

Aku memintamu dalam doa kepada Tuhan, kemudian kau datang. Tuhan mengabulkan pinta.

Lalu kau memintaku waktu, namun aku bukan Tuhan. 

Mari kita mendekap dalam jarak, dalam kesibukan fana duniaku dan kekosongan waktu aku dalam duniamu. Aku selalu memelukmu ketika ada ataupun tidak ada waktu.


Selamat berbahagia hari ini, desember dan hujan selalu bertemu di sela-sela waktu kita menunggu
Reactions

Post a Comment

0 Comments