Backpacker ke Sumatra Barat #2

Backpacker ke Sumatra Barat #2


Tepat menjelang malam, kami sampai di kota Padang setelah menempuh perjalanan dari Payakumbuh sekitar tiga jam menggunakan bis antar daerah. Dari loket bis kami memesan transportasi online menuju kost-an sepupu dari teman saya Ogik, namanya Rezi. Tiba di kost-an, kami segera membersihkan diri setelah bepergian satu hari penuh, kemudian beristirahat sejenak sambil ngobrol, ngopi dan berbincang perihal jadwal perjalanan kami selanjutnya. Bermalam minggu di kota Padang sudah kami rencanakan, padahal sebelumnya kami berniat untuk singgah dan menginap di Batu Sangkar yang kebetulan ada kerabat juga di sana. Namun niat itu kami urungkan karena mengingat daerahnya yang cukup sepi untuk menikmati malam minggu hihi. Padahal di Batu Sangkar sendiri merupakan daerah kerajaan Minang dan di sana juga terdapat replika istana Pagaruyung yang merupakan istana kerajaan Minang. Istano Basa sendiri sebenarnya dibangun pada abad ke-17, terletak di atas bukit Batu Patah dan dibakar habis pada tahun 1804 oleh kaum paderi yang kala itu memerangi para bangsawan dan kaum adat. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966. Meski tidak seratus persen mirip dengan aslinya, replika Istana Basa ini dibangun semirip mungkin dengan teknik dan ukiran yang seperti aslinya pada tahun 1976.

baca cerita perjalanan bagian pertama di sini

Bagi saya, bermalam minggu di kota Padang sangat asik, kami diajak oleh Rezi menikmati jajanan makanan jalanan di Tugu Gempa. Tugu gempa dibangun pada tahun 2009 untuk mengenang peristiwa gempa di Sumatra Barat. Adanya sebuah monumen sudah pasti bertujuan untuk meninggalkan catatan kejadian dan fakta sejarah. Tugu Gempa pada malam hari, menjadi tempat yang ramai karena diisi oleh para pemuda yang nongkrong dan bercengkrama, apalagi Kota Padang sendiri terdapat beberapa Universitas besar yang tidak lain pastinya banyak didatangi oleh para mahasiswa/i dari luar kota Padang itu sendiri. Kota padang meski bagi saya berbeda suasana dengan kota Bukit Tinggi yang sejuk dan dingin, namun tetap menjadi kota yang memang asik untuk dikunjungi ketika ke Sumatra Barat. 

Setelah beristirahat penuh dan bangun kesiangan, akhirnya kami pun membuat rencana untuk jalan-jalan santai di lokasi wisata yang tidak terlalu jauh dari kota padang. Kami memilih untuk bermain di sekitaran pantai air manis yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Padang menggunakan sepeda motor. Kami pergi berempat setelah selesai makan siang. Cuaca cukup panas, tapi kami tetap melakukan perjalanan seolah cuaca panas adalah makanan kami sehari-hari. Waktu itu hari minggu, pantai air manis cukup ramai dipenuhi oleh pengunjung. Pantai ini terbilang cukup menarik, selain cerita tentang legenda Malin Kundang-nya. Pantai yang terletak 10 km ke arah selatan dari kota padang ini,termasuk tempat wisata favorit masyarakat karena kita bisa menikmati pemandangan yang indah. Jika melihat ke arah utara maka kita akan melihat gundukan Gunung Padang, juga terdapat dua pulau kecil yang terletak tidak jauh dari pualu ini, namanya pulau Ketek dan pulau Pisang Gadang. Selain panorama indah yang disajikan secara alamai di pantai ini, kita juga bisa bermain paralayang dari atas bukit di sekkitar panttai dan akkan mendarat di pantai itu sendiri, juga ada penyewaan motor roda empat untuk berkeliling menikmati pantai dan buat yang tertarik bermain selancar/surfiing juga bisa menyewa dengan para surfer lokal yang ada di sana.



Balik lagi beberapa waktu sebelum ke pantai air manis. Jadi sewaktu perjalanan ke pantai kami melewati daerah di kota padang yang saya lupa nama daerahnya apa. Tempat ini semacam daerah yang dipenuhi gedung-gedung lama yang kosong. Akhirnya kami singgah sebentar untuk berswafoto. Ternyata daerah ini baru saja selesai diadakan acara Insumatrafest. Acaranya beragam, tapi salah satu yang saya tahu adalah kegiatan membuat mural yang dilakukan oleh seniman lokal kota Padang yang berkolaborasi dengan salah satu fotografer jalanan (street photographer) dari Jakarta. Satu hal yang saya kagum selama berada di kota Padang adalah kota ini diisi oleh orang-orang yang kreatif dan aktif.

hasil karya seni kolaborasi seniman kota Padang dengan street photographer Jakarta

Maju ke waktu setelah selesai dari Pantai Air Manis kami akhirnya pulang. Namun di perjalanan pulang dan juga mengingat hari belum terlalu sore, akhirnya kami singgah sebentar di Masjid Raya Sumatra Barat untuk menikmati waktu bersantai sore di sana. Masjid Raya Minangkabau ini sangat megah, indah dan juga beda dari bentuk masjid pada umumnya, karena seperti yang kita tahu bahwa masjid ini juga mengadaptasi unsur-unsur dari arsitektur bangunan Minang sendiri yaitu ujung atap yang lancip layaknya rumah Adat Minangkabau. Menikmati sore hari di sini cukup enak bagi saya yang pada saat itu selain saya sebagai pelancong yang penasaran dengan arsitektur bangunan unik dari Masjid ini.

Langit menguning gelap, mentari tenggelam di cakrawala. Kami segera pulang, sebab perjalanan selanjutnya akan segera dilanjutkan. Kota padang dan beberapa cerita singkat yang kami dapatkan, semoga bisa mempertemukan kaki kami lagi ke tanahnya. 


English Version

Just before night, we arrived in Padang city after traveling from Payakumbuh about three hours by bus between regions. From the bus counter we booked an online transfer to kost-an cousin of my friend Ogik, his name is Rezi. Arriving at kost-an, we immediately cleaned up after traveling a full day, then took a short break while chatting, drinking and talking about our next itinerary. We had planned a week's stay in Padang, whereas previously we intended to stop by and stay at Batu Sangkar which happened to have relatives there as well. But the intention was to undo it because considering the area is quiet enough to enjoy hihi Sunday night. Although in Batu Sangkar itself is the area of Minang kingdom and there is also a replica of Pagaruyung palace which is the royal palace of Minang. Istano Basa itself was actually built in the 17th century, located on the hill of Batu Patah and burned down in 1804 by priests who at that time fought the nobles and indigenous peoples. The palace was later re-established but returned to fire in 1966. Although not one hundred percent similar to the original, this replica of the Base Palace was built as similarly as possible to the techniques and carvings that were originally in 1976.

For me, spending the week in Padang city was very cool, we were invited by Rezi to enjoy street food snacks at Tugu Gempa. An earthquake monument was built in 2009 to commemorate the earthquake in West Sumatra. The monument is definitely aimed at leaving a record of events and historical facts. Tugu Gempa at night, becomes a crowded place because it is filled by young people who hang out and chat, especially Padang City itself there are some big universities that are not other than certainly visited by students from outside the city of Padang itself. Padang city though for me is different atmosphere with bukit tinggi city which is cool and cold, but it is still a cool city to visit when to West Sumatra.  
 
After a full break and waking up to the day, we finally made plans for a relaxing stroll in a tourist location not too far from Padang city. We chose to play around the sweet water beach which is not too far from Padang city by motorbike. We went foursome after finishing lunch. The weather was quite hot, but we kept travelling as if the hot weather was our daily meal. It was a sunday, the sweet water beach was quite crowded with visitors. This beach is quite interesting, besides the story of the legend of Malin Kundang. The beach is located 10 km to the south of padang city, including the favorite tourist spot of the people because we can enjoy the beautiful scenery. If looking to the north then we will see the mound of Gunung Padang, there are also two small islands located not far from this pualu, the name is Ketek island and Pisang Gadang island. In addition to the beautiful panorama presented naturally on this beach, we can also play paragliding from the top of the hill in sekkitar panttai and akkan land on the beach itself, there is also a four-wheel drive bike rental to get around enjoying the beach and for those interested in surfing / surfiing can also rent with the local surfers who are there.

Turn around again some time before heading to the sweet water beach. So on a trip to the beach we passed an area in padang city that I forgot what the name of the area was. This place is kind of an area filled with empty old buildings. Finally we stopped by for a selfie. It turns out that this area has just finished holding an Insumatrafest event. The event is diverse, but one of the things I know is the mural making activity done by a local artist in Padang city who collaborated with one of the street photographers from Jakarta. One thing I was amazed during my time in Padang is that it is filled with creative and active people.

Forward to the time after finishing from Air Manis Beach we finally went home. But on the way home and also remembering the day not too late, finally we stopped by the Great Mosque of West Sumatra to enjoy an afternoon relaxing time there. Minangkabau Grand Mosque is very magnificent, beautiful and also different from the form of the mosque in general, because as we know that this mosque also adapts elements of the architecture of Minang building itself namely the roof end that taper like a Traditional Minangkabau house. Enjoying the afternoon here was quite good for me who at the time besides me as a curious traveler with the unique building architecture of this Mosque. 
 
The sky yellows darkly, the sun sinks on the horizon. We'll be home soon, because the next trip will resume soon. Padang city and some of the short stories we got, hopefully can bring our feet back to the ground. 




Reactions

Post a comment

0 Comments