Backpacker ke Sumatra Barat #1

Backpacker ke Sumatra Barat #1


Hampir setahun, dan cerita ini baru bisa saya tulis dan bagikan. Bukan karena susah, tapi lagi males  berkepanjangan untuk menulis. Hari ini setelah membuka catatan dan galeri foto selama bepergian, akhirnya saya memaksakan diri untuk menulis cerita yang mungkin bagi kalian biasa saja :)

Bermodalkan sedikit pengalaman dan uang, pada maret 2019 lalu saya bersama dengan seorang kawan (Ogik) melakukan perjalanan ke Sumatra Barat. Ogik yang baru keluar dari pekerjaannya mengajak saya untuk pergi ke Sumatra Barat.

Sebulan setelah perencanaan, akhirnya kami pergi dengan segala persiapan, dan tentu saja niat. Perjalanan dimulai dari rumah saya di Pangkalpinang, Bangka Belitung menuju pelabuhan Muntok, Bangka Barat, menggunakan bis. Perjalanan ini memakan waktu sekitar kurang lebih tiga jam. Kami yang berangkat dari rumah pukul tujuh pagi dan sampai di pelabuhan sekitar pukul sebelas. Dari pelabuhan Tanjung kalian, Muntok, kami harus menyeberang laut menuju pelabuhan Tanjung api-api, Sumsel. Penyeberangan membutuhkan waktu hampir lima jam dengan kapal feri. Dari jalur darat sampai jalur laut yang memakan waktu kurang lebih sepuluh jam, bahkan kami belum setengah dari perjalanan menuju tempat tujuan, Sumatera barat.



Negeri Minang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya pada tahun 2016 dan perjalanan ini merupakan kali kedua. Berbeda dengan perjalanan pertama yang bisa dibilang liburan ala keluarga dengan membawa koper serta melewati perjalanan udara, kali ini sangat berbeda karena saya membawa ransel super besar dengan uang pas-pasan. Bisa dibilang ini perjalanan yang bermodal nekat dan taruhan untung-untungan.

Dari pelabuhan Tanjung Api-api, kami menuju ke kota Palembang. Dua jam berlalu tanpa kendala menggunakan bis, akhirnya kami sampai di Palembang sekitar pukul tujuh malam. Ian seorang kawan kami yang kebetulan kuliah di sini sudah menunggu di loket bis berniat menjemput untuk menginap di tempatnya. Iya, kami memilih menikmati kota Palembang satu malam. Sebenarnya saya sudah sering menginjakkan kaki di kota ini, namun hanya sekadar tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Jika kalian pernah membaca tentang perjalanan saya ke Gunung Dempo, Pagaralam, saya juga pernah melewati kota ini. Cerita yang masih teringat di Palembang adalah ketika saya dan dua orang kawan dipalak oleh preman di pelabuhan Bom Baru pada tahun 2017 silam. Perjalanan ke Gunung Dempo

Suasana kota Palembang pada malam hari cukup ramai, wajar kota ini termasuk kota dengan penduduk yang cukup padat di Indonesia. Makanan di sana (Palembang) juga terbilang murah, ini salah satu keuntungan bagi kami yang bepergian dengan uang pas-pas-an. Low budget traveller. Meskipun akhirnya ditraktir kawan-kawan di sana juga :)
Tubuh butuh istirahat setelah hampir seharian di perjalanan ditambah berkeliling serta menikmati jajanan kota Palembang di malam hari. Perjalanan masih jauh, besok kami harus bangun pagi karena  harus mengejar jadwal bis pagi menuju Sumbar. Dan juga kami harus istirahat yang cukup dikarenakan rute perjalanan Palembang-Bukit Tinggi menggunakan bis sekitar 24 jam. Kami memilih Bukit Tinggi sebagai titik pemberhentian di Sumbar, karena dari sana akan lebih memudahkan kami untuk mengunjungi tempat tujuan sesuai list yang sudah ditentukan. Wajar, Sumbar merupakan daerah yang tidak bisa dikelilingi langsung sekaligus, kalaupun bisa itu memerlukan waktu lama.

Kami sampai di Solok, Sumatra Barat pada pagi pukul delapan, setelah di perjalanan menggunakan bus selama kurang lebih 24 jam. Di Solok, kami mesti harus menunggu sekitar satu jam karena beberapa penumpang yang nantinya bertujuan ke Padang kota harus pindah ke bus yang lain, sementara kami tetap menggunakan bus yang sebelumnya. Ini dilakukan supaya bus tidak tidak terlalu jauh memutar.

Dari Solok, kami menuju Bukit Tinggi yang memerlukan perjalanan bus sekitar dua jam. Kami sampai di kota Bukit Tinggi sebelum tengah hari. Di Bukit Tinggi awalnya kami menghubungi teman yang tinggal di sana supaya bisa menginap di Rumahnya selama satu malam, tapi sayangnya teman kami ini sedang berada di Padang Kota, jadi kami terpaksa mencari penginapan. Setelah berjalan kaki hampir setengah jam dari loket bus tempat kami diturunkan akhirnya kami sampai di penginapan yang lumayan murah, kebetulan ketika pergi ke Bukit Tinggi sebelumnya saya juga menginap di sini.
Tanpa terasa kami sudah melakukan perjalanan kurang lebih dua hari dan baru sampai di Sumbar, tepatnya Bukit Tinggi. Di Bukit Tinggi kami memilih beristirahat sampai sore setelah menikmati sate padang di sekitaran Jam Gadang. Jam Gadang sendiri sudah banyak berubah setelah kedatangan saya sebelumnya ke sini, tapi suasana kotanya tetap sama
Bukit Tinggi tetap kota yang dingin, bersama orang-orang yang hangat.

Setelah menikmati suasana Bukit Tinggi pada malam hari di sekitaran Jam Gadang, keesokan harinya kami segera meninggalkan penginapan dan melanjutkan perjalanan menuju ke destinasi selanjutnya, yaitu, Ngarai Sianok.

Ngarai sianok merupakan sebuah lembah sempit yang dikelilingi oleh bukit-bukit bertebing curam yang dihiasi dengan aliran sungai kecil di tengahnya. kontur lembah sianok terbentuk karena proses turunnya sebagian lempengan bumi, sehingga menimbulkan patahan berwujud jurang yang curam.

Hari kedua di bukit tinggi kami habiskan untuk berkeliling di sekitaran Ngarai Sianok yang memanjakan mata, dengan panorama yang didominasi warna hijau khas dataran tinggi.
dari bukit tinggi, kami segera berpindah tempat ke Payakumbuh. Perjalanan dari bukit tinggi menuju payakumbuh ditempuh dengan bus dalam waktu sekitar satu jam. Kami sampai di Payakumbuh pada sore hari. Kebetulan seorang kawan kami yang bernama Ramli sudah menunggu di tempat pemberhentian bus. Kami langsung diajak Ramli ke Lembah Harau.

Lembah Harau hampir sama dengan Ngarai sianok dengan panorama tebing yang menjulang tinggi. Tapi saya sedikit kecewa pada kunjungan kali ini, karena lembah harau sudah tidak se-asri saat pertama kali saya mengunjunginya. Lembah harau yang sekarang sudah terkontaminasi dengan pembangunan taman bermain "ala-ala" yang bagi saya sudah menghilangkan bentuk asli dari alam itu sendiri. Tidak hanya satu, hampir setiap kawasan lembah harau sudah dibangun area-area taman buatan seperti itu. Ini mungkin sudah menjamah hampir semua tempat wisata alam di Indonesia.

Setelah kecewa dengan apa yang berubah dari lembah harau, akhirnya kami perpindah ke air terjun yang masih dalam kawasan lembah harau. Beruntung, tempat ini masih bisa dinamakan air terjun karena tidak ada unsur-unsur buatan campur tangan manusia di dalamnya. Kami menikmati makanan khas lokal dan menikmati pemandangan air terjun sampai sore hari dan langsung pulang ke rumah Ramli untuk beristirahat.

Malam hari di Payakumbuh kami habiskan untuk bersantai-ria di salah satu kedai kopi milik teman Ramly, di sana kami berkenalan dan bercengkrama dengan banyak kawan baru. Untuk kedua kalinya saya mengunjungi Payakumbuh, bisa dikatakan kota ini cukup ramai seperti kota Padang dan Bukit Tinggi. Kota yang bersahabat dan kawan-kawan yang hangat.

Pagi harinya kami melanjutkan jalan-jalan santai lagi sampai sore hari sebelum akhirnya kami pergi menuju kota Padang.

Lanjut ke bagian-2 di sini Cerita perjalanan ke Sumatra Barat bagian 1








Reactions

Post a Comment

5 Comments