Akhir


Bila tiba suatu masa
Dan jika semua sirna
Apa yang tersisa?
Dari semua rasa yang ada

Langit runtuh
Tanah bergejolak
Raga mencari pelindung
Di balik kehidupan berkabung

Apa yang semestinya ada
Hanyalah ketiadaan
Dari sana kita tahu
Semua akan sirna pada waktunya

Aku menyukai puisi sebab keindahan yang sulit untuk kumaknai. Aku menyukai puisi pada setiap bait yang mampu dilahirkan penyair dengan hatinya. Aku menyukai puisi pada denting yang telak memekikkan telinga ketika dibaca. Ia seperti melodi yang hadir menjadi penenang sekaligus menjadi pemicu segala hal. Dari puisi aku ingin sekali menyelami kehidupan lebih dari semestinya. Kadang aku berpikir, apakah menyukai puisi dapat membawaku membawa kebahagiaan? Tapi teryata pikiranku tidak hanya itu. Semakin aku berhasrat ingin mengetahui sesuatu, maka semakin jauh aku meninggalkan diri sendiri. Entah kenapa. 

Dunia begitu besar untuk kita pelajari semuanya, samudera terlalu besar untuk kita arungi, gunung terlalu tinggi untuk pijaki, dan juga diri kita terlalu kecil untuk mencapai semua itu. Begitulah hakikat manusia bukan? Dari sana aku mengerti semakin banyak aku ingin mengetahui sesuatu maka semakin besar pula rasa ketidakpuasaan menghantui. 

Tapi aku bersyukur untuk bisa mengerti tentang semua itu. Tentang hal yang memang seharusnya manusia sadari bahwa dunia tidak akan mampu untuk digenggam dalam kepalan tangannya. Manusia terlalu kecil untuk semua itu. Tapi manusia punya cinta yang besar untuk memahami segalanya. 

Hari ini kita mesti menyadari bahwa waktu akan mempertemukan kita pada kesirnaan yang telah Tuhan janjikan. Langit akan runtuh pada waktunya, bumi akan bergejolak hebat, lautan tumpah-ruah menghantam daratan, dan gunung-gunung akan meluapkan segala hal yang ada dalam dirinya. Saat itulah akhir dari kehidupan kita. Apa yang bisa manusia lakukan penemuan terbesarnya tak akan mampu mengentikan itu semua. Lalu apa artinya semua ini? Bersyukurlah. Dari hal itu kira tahu bahwa ketika waktunya tiba semua manusia akan merasa setara. Profesor, ilmuan, sejarawan, sastrawan, rakyat biasa, dan lain sebagainya semua akan sirna dalam sekejap. Disanalah letak kesetaraan manusia. Segala kemewahan tak akan ada artinya lagi ketika waktu itu tiba. Semua menyerah pada kehendakNya. Semua sirna.

Apakah kita mesti takut?

Semua jawaban ada pada diri masing-masing. Seperti memahami puisi, aku juga sulit untuk memahami pertanyaan yang mengharuskan seseorang bertindak. Kita hidup pada langkah kaki masing-masing, pada kinerja otak masing-masing. Maka jangan pernah mencoba menjawab pertanyaan tanpa mencari tahu sebelumnya. Sebab tak ada yang tahu jawaban dari semesta ini, kecuali ia yang telah ciptakan semuanya.




Reactions

Post a Comment

0 Comments