Self Improvement - Dampak Negatif dari sebuah pertanyaan

Di kehidupan sehari-hari, kita seringkali diberikan sebuah pertanyaan pada orang-orang terdekat; keluarga, teman, pasangan dan lain sebagainya. Tapi sejauh ini, terlebih di Indonesia, banyak sekali pertanyaan klise yang muncul dari mulut, katakanlah orang-orang yang saya sebutkan di atas. Pertanyaan yang mereka lontarkan tidak lebih hanya sebuah absurditas yang pada akhirnya menimbulkan dampak psikis buat orang yang diberikan pertanyaan tersebut, baik di lingkungan sosial yang nyata ataupun di sosial media. Saya jadi heran kenapa orang-orang di Negeri ini gemar sekali melakukan suatu hal tanpa pernah tahu dampak dari apa yang dilakukannya. 
Kapan punya pacar?
kapan nikah?
kapan punya anak?
kapan anaknya punya adik?
kapan lulus kuliah?
kapan kerja?
kerja dimana?
gaji berapa?
kapan kurus?
kapan menemui orang tuaku?
(lanjut lagi jika ada. . .)


Nah, mungkin pertanyaan di atas sudah sering kita temukan baik di sosial media maupun di dunia nyata. Mungkin bahkan juga kita pernah memberikan pertanyaan itu kepada orang lain. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa saja menyinggung atau memberikan sebuah tekanan mental terhadap seseorang. Tidak semua orang juga bisa menjawab ataupun menerima pertanyaan itu, atau juga ada orang yang mampu menjawab dengan nada datar dan senyum palsu hanya karena ingin memberi kepuasan kepada si penanya. Dan yang lebih anehnya lagi terkadang yang memberikan pertanyaan tidak akan pernah merasa puas dengan jawaban yang ia terima. Ketika sudah lulus kuliah akan ditanya kapan kerja, setelah kerja akan ditanya kapan nikah, dan setelah nikah akan ditanya kapan punya anak, begitulah seterusnya. Tidak berujung. Semakin kesini budaya seperti itu makin meluas, tidak terkendali dan terlampau ekstrim. Orang-orang merasa hal semacam itu adalah hal biasa sebab dilakukan oleh banyak orang. Tanpa sadar tradisi seperti itu telah berdampak buruk bagi kesehatan mental seseorang. Banyak orang tertekan, depresi, obsesi berlebihan demi mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan itu. Dan apakah kita tahu dampak terburuk jika mereka gagal menemukan/mendapatkan jawaban?
jawabanya adalah Bunuh diri
Orang-orang dengan mental yang tertekan, depresi, akan mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi seolah mereka tidak akan pernah menemukan penyelesaian dalam masalahnya kecuali dengan membunuh diri mereka sendiri. Itulah dampak terburuk dari suatu hal yang dianggap banyak orang sebagai hal yang biasa saja, lelucon, atau untuk menghibur diri sendiri.


Jika bunuh diri menjadi yang terburuk, lalu apa dampak lain yang tidak sampai menghilangkan nyawa? Banyak. Ada yang rela tidak makan selama beberapa hari biar cepat kurus, ada yang mengurung diri dirumah karena minder tidak punya pacar, dan banyak lagi. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya bahas mengenai hal-hal yang seringkali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari selain pertanyaan yang berdampak negatif di atas. Tapi saya masih harus banyak belajar lagi, melihat, mengamati dan merasakan semua hal itu.  Intinya saya ingin menyampaikan sesuatu yang saya rasa banyak kekeliruan namun sudah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia.  Jangan sampai kita meneruskan budaya yang aneh ini sampai generasi-generasi berikutnya. Kita anak muda mesti melakukan revolusi mental, melupakan doktrin-doktrin masa lalu, berpikir pintar dan mencari kebenaran, bersikap dewasa , mempunyai ideologi, dan terakhir tidak lupa Tuhan.
sebelum berakhir, jika dirasa masih banyak kekurangan atau kekeliruan mohon dimaklumi. Jika ada yang ingin ditambahkan silakan. Inilah fungsi kemajuan zaman yang sesungguhnya, berbagi bersama dalam satu tujuan, bukan saling mencari kesalahan tanpa pernah tahu tujuan apapun. Tinggalkan komentar, kita berdiskusi dengan tenang.

"Tujuan penciptaan manusia sangat banyak, dan jika kau memiliki jawaban atas itu maka simpanlah rapi dalam hati.
tak perlu kau beri tahu pada siapapun, sebab jawaban yang kamu miliki sekarang mungkin akan berubah suatu hari nanti. 
Percayalah tidak ada yang abadi di Dunia ini kecuali satu, dan kau tahu itu siapa"


Salam
-Rendy Saputra 

Reactions

Post a Comment

0 Comments