Penghujung Malam




Oktober telah mendatangkan hujan
malam sudah mendatangkan bintang
kita masih merasa sama
dari segala cemas dan lara

Dinihari yang sendu bulan Oktober. Suara jam berdetak beriringan dengan rintik hujan yang jatuh ke atap rumah, lalu meluncur bebas membasahi Bumi. Hujan memaksa diriku  untuk pulang dari obrolan yang sedang seru bersama kawan-kawan. Sekarang aku dipaksa lagi untuk menulis sebab rintiknya seolah memainkan nada yang sayang sekali jika dilewatkan dengan tertidur pulas hingga esok hari. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Laptop kuhidupkan dengan cepat karena kata-kata dalam kepala sudah mendombrak pintu yang entah berada dimana untuk segera keluar, lalu menjelma menjadi aksara yang entah akan bermakna apa. Tapi tak mengapa, bagiku menulis ada sebuah meditasi diri. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada orang lain dengan cara menulis, salah satunya dengan menulis catatan ini. Mungkin menulis catatan sudah lama sekali tidak aku lakukan, karena aku berpikir orang-orang tidak akan menyukai itu. Entah karena alasan apa, aku juga  tidak tahu. Mungkin karena catatan harian hanya terkesan seperti sebuah curahan hati. Tapi tak apalah, setelah membaca buku Mark Manson yang berjudul SEBUAH SENI UNTUK BERSIKAP BODO AMAT, pikiranku jadi terbuka. Aku jadi lebih paham bahwa bersikap bodo amat adalah hal yang paling realistis untuk menunjang kita menuju masa depan.

Hujan masih belum berhenti menjatuhkan diri dari atas sana. Sementara aku telah tiba pada baris baru sebuah aksara. Ragaku seperti didorong untuk terus menulis apapun yang disampaikan otak kepada tangan yang sigap menari pada tombol angka yang tersusun acak. Aku berhenti sejenak, memikirkan sejenak apa yang harus kutulis lagi selanjutnya. Mungkin untuk kedepan aku akan kembali lagi menulis catatan harian, sebagai kegiatan untuk selalu menulis dan juga sebagai arsip yang bagus untuk aku baca nanti.

Di dunia ini tidak banyak orang yang berani bercerita dengan lantang di hadapan orang, begitu juga aku. Tapi bukan berarti manusia tidak butuh cerita. Maka dari itu, menulis adalah caraku merefleksikan diri untuk terus bercerita. Setidaknya aku tetap merasa hidup.

Jari tangan itu seperti menari diatas kata
meninggalkan jejak puisi untuk pagi
memberi tanda tanya esok hari
tentang apa itu makna

seperti serdadu yang mati
hujan reda tanpa perlu diperintah
satu persatu masih jatuh ke Bumi dari sisa awan terakhir
lalu hening, diiringi detak jam dinding

pagi akan kembali pada semua hidup manusia
memberi sedikit cemas tentang tujuan hidup yang hampir sirna
tangan itu tak berhenti menari
menggambarkan segala cerita dari kata

di penghujung malam aku bersandar pada dinding yang dingin
menatap apa yang tertulis
meratap apa yang membuat tangis
jiwaku tak pernah berhenti untuk berharap seperti angin

Ada satu hal yang aku dapatkan hari ini tentang makna hidup, bahwasannya waktu terus memaksa kita untuk berjalan beriringan bersamanya. Sebab ia tak ingin detak jantung kita berhenti seperti detaknya yang juga mati dari arloji.

sebelum catatan ini berakhir aku ingin mengucapkan selamat pagi.

dunia terlalu indah untuk kita nikmati sendiri, aku ada untuk menjadi apa yang aku mau, begitupun juga kau sebaliknya. Tapi bukan berarti kita mampu berjalan sendiri, aku dan kau ada untuk menjadi kita. Tak perlu saling mengisi hati satu sama lain, cukup menjadi hangat dalam setiap tatap dan hembusan napas, hingga sampai akhirnya perasaan meninggalkan bekas. Jumpai aku dalam mimpi, lalu bangunkan aku untuk menggapainya. 


Oktober 2018
-Rendy Saputra










Reactions

Post a Comment

0 Comments