Sudut Pandang Manusia


desir angin tak bersuara menyapu daun tanggal,
terombang-ambing kepiluan dibawanya.
awan membentuk gumpalan harap untuk menunpahkan hujan,
langit menghitam, para manusia bergegas menuju persinggahan

aku berada di antara keramaian yang dibasahi rintik air mata tuhan,
memasang telinga lebar, mendengar pembicaraan baik dan buruk dari seberang
hujan hadir bagai serdadu dari langit, melentingkan bunyi di atap-atap pertokoan
suara kebaikan dan keburukan tak kalah bising dengannya

bila keberanianku sebanyak hujan yang mampu basahi jalanan,
maka akan ku serbu segala carut-marut keangkuhan itu
bila saja, tuhan memberiku keberanian lebih besar,
maka aku akan pulang



Di  dunia ini semesta berotasi dengan sangat baik, tidak lain itu semua berkat kebesaran tuhan. kehidupan memiliki dua sisi, entah itu saling berlawanan atau juga saling bersamaan. 
Kiri dan kanan, atas dan bawah, gelap dan terang, malam dan siang, baik dan buruk. semua pasti memiliki pasangan masing-masing di dunia ini. 
Dewasa ini aku seringkali memikirkan apa saja hal yang saling bersinggungan ataupun bertemu pada titik yang sejalan. Era modernisasi membawa kita pada hal-hal yang sulit dikatakan dengan mutlak. semua saling mematahkan, semua saling membentuk suatu kubu dalam hal yang bahkan sampai sekarang aku tidak tahu apa itu. Mungkin itulah yang dikatakan dengan sudut pandang manusia. Akan selalu ada yang baik dan akan ada pula yang melihat buruk. Semuanya hanya sudut pandang, maka kembali lagi kepada diri kita masing-masing.

Orang lain boleh menganggap dirimu kutu buku karena masih setia membaca segala hal dari buku di zaman sekarang, tapi kau menganggapnya budak gadget karena tidak bisa lepas dari gadget-nya. Apakah dua hal itu salah ? tentu saja tidak. Meskipun kita berada di zaman yang apa-apa saja selalu berhubungan dengan gadget, internet dan sebagainya, bukan berarti buku tidak lagi berarti di zaman sekarang. Buktinya sekolah masih menggunakan buku, toko buku kian banyak, penulis-penulis baru pun kian bertambah. Dan juga ketika kau menganggap orang yang tidak bisa lepas dari gadget bukan berarti juga dia salah, mungkin inilah pengaruh perkembangan zaman. Jika di masa lampau orang memerlukan buku untuk edukasi dan memperluas wawasan serta pengetahuan, di zaman sekarang semua lebih mudah berkat teknologi dan internet. Itulah dua sudut pandang manusia, kita tidak bisa berseragam dengan semua orang di dunia ini, maka mulailah berpikir untuk melangkah akan kearah mana kehidupanmu kau bawa. 

Dulu aku sering sekali memikirkan hal-hal terburuk dari apa yang aku lakukan. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar untuk lebih percaya pada diri sendiri. Aku mulai menghilangkan rasa takut dari itu semua. Sebab, ketika kita takut melakukan sesuatu, maka kita tidak akan bisa melakukan apa-apa/ Yang ada di pikiran kita adalah hasil yang sangat buruk, padahal tidak demikian bagi orang lain. Mungkin memang seperti inilah kehidupan, ia seringkali membuat kita merasa takut untuk melakukan sesuatu sebab akan berakhir dengan sangat buruk di mata orang lain. Tapi itu semua hanya persepsi negatif yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Misalnya, kau sangat benci dengan hal-hal yang berbau penindasan atau pembullyan. Tapi saat itu semua terjadi di hadapanmu, apakah kau akan berani  bertindak sementara orang lain sangat menikmati hal itu ? mungkin kau akan merasa ragu untuk menghentikannya. Karena apa ? karena kau takut tindakanmu hanya akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri. Kau yang tadinya niat untuk menghentikan suatu penindasan itu akhirnya kau juga malah ditindas. Padahal hal seperti akan terjadi sangat kecil, mungkin saja orang lain juga berpikiran sepertimu, yang takut mengambil tindakan sebab memikirkan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi pada dirinya.


jika kita diam saat hal-hal yang kejahatan terjadi, jangan pernah menyalahkan para penjahat tersebut
tapi salahkan dirimu yang tidak berani melakukan apa-apa.

Negeri kita saat ini berada pada suatu kondisi yang sangat memilukan. Mungkin kau mengerti apa yang ku maksud. Bayangkan, ketika kau berselancar di lini masa sosial media mu, kau pasti akan menemukan perdebatan-perdebatan yang tidak akan ada habisnya di kolom komentar. Sebagus apapun postingan yang ada di sana, akan selalu ada yang berlainan pendapat antar sesama. Bayangkan seberapa memilukan Negeri ini yang katanya merdeka. Apa yang dikatakan Bung Karno benar. "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah kerena melawan Bangsa sendiri". Dan sekarang semua itu terbukti. Entah harus bagaimana lagi menggambarkan semua ini. Tapi seperti yang aku katakan, di dunia ini kita akan selalu menemukan hal-hal yang selalu bersinggungan ataupu saling sejalan.

apakah kau ingin melihat senja dari naungan awan hitam?
apakah kau ingin melihat bintang dari pelataran yang penuh darah?
tidak, jawabku
rona senja tak akan bisa dilihat dari naungan awan hitam,
gemerlap bintang tak pernah sanggup ku lihat di atas pelataran darah saudaraku sendiri

kertas putihku dibasahi air mata, puisiku luntur seketika
makna menghilang, jiwa meneriakkan isak kepada yang berpulang
jika kehidupan menjadi satu-satunya hal yang berisi banyak kebencian
maka bawalah aku bersamamu ke surga

puisiku mungkin akan bergema di langit-langit surga 
tempat dimana kedamaian menjadi satu-satunya rasa
tangisanku mungkin akan menjadi kemerduan di pelataran surga
tempat dimana kebahagian tak bisa lagi digambarkan dengan senyuman


September, 2018
Rendy Saputra
Reactions

Post a Comment

0 Comments