Pergi




Perpisahan itu apa? sebuah warna kah?
pertemuan itu apa? sebuah suara kah?

Kau tak pernah bisa mendengar detak jantungku,
 kecuali jika kau dekatkan telingamu di dadaku
kau tak pernah bisa mengerti isi hatiku,
 kecuali kau tanyakan apa saja yang ada dalam hatiku
kehidupan begitu rumit dan jika kita hanya diam dan membisu untuk mencari jawaban, 
dari pertanyaan-pertanyaan yang seringkali hinggap di pikiran

aku melukiskan cahaya pada malam yang bising,
berpendar-pendar memecah segala keributan
aku memfokuskan titik paling indah,
menahan nafas beberapa detik, tangan bergetar, lalu memberhentikan waktu
kita saling melupakan pertemuan dan perpisahan untuk sementara,
pergi menenangkan jiwa pada kesakitan-kesakitan akan kehilangan
raga kita melemah bagai cahaya bintang yang ditutupi awan tebal,

Aku pergi,
aku pergi untuk mencari setengah diriku yang hilang
aku pergi,
aku pergi untuk mencari setengah dirimu yang hilang
aku pergi,
aku pergi untuk menemukan kehilangan yang pernah erat ku genggam
aku pergi,
untuk pulang pada sebuah pelukan

kau tahu bagaimana rasanya menyakinkan diri sendiri untuk tidak jatuh berulang kali?
aku sedang berusaha untuk itu semua, pergi menjauh dan merelakan hal-hal yang sepantasnya aku lupakan
kita seringkali merasa benar, lalu mencari titik kesalahan pada orang lain
namun kita tak pernah sadar bahwa yang kita cari bukanlah itu semua
kita hanya perlu saling memahami inti hati orang lain, lalu menerima itu semua pada hati kita
keinginan kita untuk selalu merasa benar sangatlah besar, terlalu besar untuk dilawan ego kita untuk mengalah
kita terlalu bodoh untuk berbohong pada diri kita untuk menjadi bahagia, namun nyatanya kita hanyalah manusia yang terperangkap dalam tumpukan jerami

kau tahu bagaimana rasanya mengalah untuk hal-hal yang kita benci?
aku merasa bahagia yang tak terkira, tiba-tiba detak jantungku tenang, lalu kedamaian semu itu menghilang
aku terlambat menyadari itu semua, aku juga terlambat untuk menyadari orang lain
apakah manusia harus terlambat mengerti agar bisa memahami semua hal yang belum ia pahami?
menyesal pada pilihan-pilihan yang ia jalani, lalu mengerti setelah semuanya terlambat untuk diperbaiki

aku pergi, untuk beberapa alasan yang sulit diucapkan
keheningan-keheningan kita seumpama cahaya lampu jalanan
diam, bisu dan tak bergerak. namun selalu menerangi sekitarnya
tak ada yang peduli padanya, ia hanya dianggap benda mati bagi manusia yang lalu-lalang mencari tenang
ia hanya sebongkah pendar cahaya malam yang dilewati begitu saja, tampa pernah tahu bahwa keheningan yang ia ciotakan adalah cahaya yang selalu menerangi jalan orang-orang

aku pergi,
semoga langkah kita berhasil mempertemukan kita untuk kedua kalinya
aku pergi,
semoga pertemuan kita yang selanjutnya tak pernah berakhir perpisahan

Aku pergi. .
Reactions

Post a Comment

0 Comments