Merayakan Kehilangan



Seperti embun yang hadir pagi buta,
seperti basah daun dan ranting saat fajar merona
kita kehilangan separuh rasa,
kita kehilangan seutuhnya cinta

semilir angin berhembus tanpa jeda,
sinar mentari menebus ruang gelap gulita
semesta melahirkan jiwa pada inti jantungnya,
manusia melahirkan kebencian dari inti hatinya

ragaku tak berdaya dalam dekap malam yang hening,
juga terkulai pada pagi hari yang bising
kita baru saja merayakan kehilangan yang abadi,
dari waktu-waktu indah yang tak akan terulang lagi

hatimu kembali mendatangkan rasa baru,
seperti aroma bintang tanggal yang tidak pernah kusanjung sebelumnya
permintaan kita pada perbatasan amarah tak pernah tercapai,
kehilangan telah berlabuh pada tempat yang sulit kita gapai

seperti apa rasanya jatuh cinta kembali?
merasa yakin bahwa kau tidak akan gagal dari sebelumnya, berproses bagimu sebuah pelajaran dari kegagalan cinta di masa lalu. 
Apakah kau mampu melupakan?
Setiap hembusan napas bahagia saat pelukan seseorang mampu menenangkan, setiap detik rasa yang selalu saja membuat dirimu bertanya-tanya, setiap detak jantung yang tiba-tiba berubah irama. Apa kau bisa ?

Tak bisa dipungkiri memang, jatuh cinta tak perlu waktu lama. Namun ada beberapa hal yang membuat hati menjadi bimbang; ketika kau merasa jatuh cinta kembali pada waktu di mana kau belum bisa untuk melupakan kehilangan. 
Jiwamu memaksa untuk melupakan kenangan lama yang indah, namun semakin jiwamu mendorong kau untuk melakukan itu, maka semakin mustahil pula kau untuk melakukannya. Ragamu melemah, hatimu berontak, sementara dirimu tak berdaya apa-apa menghadapi keadaan seperti ini.

Orang lain mudah mengatakan dan menyuruhmu untuk melupakan masa lalu yang membuat mu sakit hati. Tapi itu tidaklah mudah. Membenci seseorang yang pernah kita cintai adalah kebohongan yang paling dasar untuk mencoba jatuh hati kembali.

Aku masih merayakan kehilangan. Sedang, kau mencoba jatuh hati kembali. Memaksa hatimu yang rapuh itu untuk kembali terhempas dan pecah. Ego menjadi pendorong untuk membuktikan kepantasan dirimu bahwa aku telah salah. Namun aku justru kasihan melihatmu, ketidakberdayaan itu membuatku heran, apa yang ingin kau buktikan pada fenomena asmara ini. Apakah takdir tuhan tak lagi kau percayai? apakah kebencian telah menjadi separuh dari hatimu? Kuharap kau tidak mengecewakan orang lain dengan mencoba memaksakan jatuh hati kepadanya.

Aku masih saja merayakan kehilangan, mencoba memahami setiap kesalahan dari manusia-manusia yang pernah berada di pelataran cinta. Aku membisu pada keramaian yang seringkali menyeret kita pada kehilangan-kehilangan yang tanpa sengaja, atau pertemuan-pertemuan kita yang tak pernah mempunyai makna. Tapi kehadiran sekaligus kehilangan dirimu, membuatku menjadi orang yang lebih sadar akan sebuah rasa jatuh cinta yang sesungguhnya. Dalam diam dan sepi malam, mungkin doaku pernah singgah di rumahmu untuk menyapa, atau doa itu memang menuju kepadamu sebab aku meminta orang yang baik untuk diberi separuh hati ini.

Bagimu jatuh cinta itu seperti bunga-bunga yang penuh warna, sebab itu kau merasa bahagia.
Bagiku jatuh cinta itu seperti kesuburan tanah, ia selalu membuat bunga-bunga subur kembali.
Tapi ingat, ketika kau membuatku tak lagi menjadi tanah yang subur, maka keindahan bungamu akan berakhir karena layu. Dan kebahagiaanmu akan hilang seutuhnya.

Jatuh cintalah pada dirimu yang lemah, dari sana kau akan menemukan orang yang siap memelukmu erat.


Terima kasih pada waktu yang selalu menempa hati orang-orang yang pernah kehilangan hingga sekuat ini. Takdir tetap berada pada garis rotasinya, begitupun takdir orang yang kau cintai. Suatu saat semoga garis itu bersinggungan dan membuat kembali cinta kembali utuh dari rasa mencintai yang pernah jatuh.


salam
-Rendy Saputra

Reactions

Post a Comment

0 Comments