Menyadari Kehidupan


 doa, harapan dan mimpi.
hidup seringkali membawa kita pada terkaan kata.
kenyataan adalah kebenaran yang mesti kau hadapi
tak peduli kecewa, tak peduli hadirkan lara

genggam erat  yang tak mesti kau lepas
lihatlah langit malam yang berhias bintang, disana tuhan hadirkan kebesarannya
lalu lihatlah bayangmu ketika disinari cahaya purnama, 
disana tuhan tunjukan betapa kecilnya manusia

langkah kakimu bukanlah penghapusan dosa,
tidur malam mu bukanlah jeda kehidupan semata.
 ingatlah, waktu tak bisa kau lihat dan tak bisa kau rasakan
ia tak berwujud besar atapun kecil seperti  yang kau bayangkan, namun ia berdetak bersama degupmu.

kehidupan adalah tanda tanya besar untukmu sendiri, 
dan kematian adalah titik kecil dari kehidupan ini.
rangkailah kata dan hidupkan jiwa
dunia ada bersama semua orang, dan semua orang tak akan pernah ada untuk dunia.


Bait puisi ku tersusun tanpa rupa hari ini. dan Kau tau apa yang aku rasakan ? keheningan dan kesunyian. Berlabuh dalam memori, mengembara di alam mimpi. Kuteriakkan satu atau dua kata yang senada, lalu jadilah mereka. Puisiku tak perlu kau maknai dengan sungguh hingga kau lupa puisimu seringkali lahir diantara doa-doamu. Aku memecah hening bersama malam ku dan begitu juga kau seharusnya.

Kini kita menyadari betapa besar keinginan-keinginan untuk memiliki, mendoakan yang akan terjadi atau mengenang sekali lagi yang sudah terjadi. 
Kehidupan adalah tanda tanya yang berada dimana-dimana. Tapi kita tak akan pernah menemukan jawaban sampai kita bisa menghapus pertanyaan itu sendiri. Ketika bahagia kita lupa kesedihan dan air mata, ketika bersedih kita lupa tertawa dan senyuman. Begitulah kehidupan terjadi. 
Mungkin seringkali aku berpikir untuk diam, namun mustahil. Jari-jemariku meronta ingin merangkai kata yang dibisikkan hati. Disanalah pertanyaan tentang dunia ini hadir, bersama puisi-puisi tanpa rupa. Kita memiliki dunia imaji yang berbeda bukan ? dan kehidupan disana lebih dari apa yang kita hadapi di dunia ini. Fana seringkali membawa kebahagiaan di dunianya sendiri sekaligus memaksa kita menghianati kenyataan dunia ini.

Aku ingin hadir dengan rupa cahaya di hadapanmu, sebab gelap bagiku adalah kegelapan sesungguhnya. Dan jika aku hadir tanpa cahaya, aku yakin keredupan itu diselimuti dosa-dosa dari keangkuhanku menjawab seisi kehidupan ini. Aku menyadari manusia seringkali merasa kuat untuk bertahan dari kebenaran dan terlihat lemah untuk memaafkan dan dimaafkan. Lalu apakah aku berada diantara itu ? Iya jawabku. Kelemahan semua manusia terletak pada egonya sendiri. ia dikalahkan oleh rasa yang besar untuk berpegang teguh pada salah dan benar, namun nyatanya tak ada manusia yang mampu menjadi hakim mutlak tentang kebenaran dan kesalahan itu. Semua hanya penilaian mata yang melihat, bukan hati yang merasakan. 

Sampai pada titik yang tidak kita tau kelak, kesadaran akan kehidupan ini akan menjadi akhir sekaligus menjadi akhir dari hidup ini.  Sampai bertemu di titik itu, kelak mentari adalah cahaya paling gelap yang pernah kau lihat dan penyesalan tiba pada waktu yang sebenarnya. 

"Ketika kita saling menyemogakan harapan.
tak ada yang tau siapa yang jadi pendoa, semua orang akan lebih melihat siapa yang jadi pendosa"

Salam aksara 
Salam Damai
-Rendy Saputra 
Di keheningan, 10 juli 2018





Reactions

Post a Comment

0 Comments