Teriakan Paling Sunyi

sumber ilustrasi - Pinterest

Bagamana menggambarkan rasa kecewa ?

Bagaimana mengungkapkan kesedihan dengan kata-kata ?

Bingung bercampur aduk dengan amarah. Segala yang terjadi seringkali menjadi kesalahan yang tidak pernah direncanakan. Penyesalan bagiku hanyalah kesia-siaan yang membuat segala sedih dan kecewa semakin sesak. 

Hari ini adalah kesekian kali Aku dicekik waktu, dikendalikan, diperah dengan pamrih yang menyesakkan dan menyedihkan bagai domba-domba yang tak bisa bicara bahasa manusia. Diam, membisu lalu bungkam tanpa kata-kata. 

Apakah ini kebebasan yang Aku impikan waktu dulu ?

Sepertinya itu hanyalah khayalan di waktu senggang serta memikirkan impian yang begitu megah bertabur bintang-bintang disekitarnya. Telah banyak jalan yang aku pilih tanpa pernah tahu tujuan pasti ingin kemana, namun logika tak pernah mati dalam diri ini. Ia seringkali membicarakan kehidupan yang bahagia, kebebasan serta keinginan lebih tanpa batas puas. Dan kali ini Aku kembali menelan pil pahit tentang kehidupan. Sehebat itukah waktu mengendalikan manusia ? atau sehebat itukah manusia mengendalikan manusia lainnya tanpa kenal waktu ?

Saat ini Aku tak sedang berada di pantai, gunung ataupun padang rumput yang luas, jika saja aku berada di tempat seperti itu mungkin Aku akan berteriak dengan penuh amarah, mencerca waktu berisi kata-kata penyesalan. Tapi saat ini Aku sedang berada di sebuah ruangan kecil, sempit dan hanya ditemani nada-nada yang mendayu. Lalu kemana segala luapan emosi dan amarah itu aku teriakkan ? jawabannya adalah disini, tepat dibarisan kalimat yang mengalir tanpa jeda ini Aku meluapkan amarah dan kecewa yang begitu membabi buta.

Ini bukan rangkaian kata penyesalanku terhadap waktu, ini lebih ke sebuah teriakan yang paling tak terdengar oleh siapapun bahkan oleh diriku sendiri. Teriakan tak terdengar dan sunyi ini lalu melahirkan puisi-puisi yang begitu rapi. Habis sudah segala rasa dalam jiwa ketika semua hal yang Aku anggap adalah tujuan utama mencapai bahagia justru berbanding terbalik dan berubah arah menikam diriku sendiri. Jika setengah mati bisa digambarkan, maka saat ini Aku berada di titik itu. 

Aku bisu tak bersuara
Bersembunyi di balik teriakan perintah. Siapa dia ?
tanyaku pada dinding yang lebih tak bersuara
rantai-rantai ini tak bisa lepas dari segala tubuhku.
Akankah rantai itu abadi ?
Tanyaku pada bayang-bayang yang gelap, ia tak menjawab.
Kini Aku berada di sebuah tanda tanya yang berdenting keras.
Terbaring diatas kebingungan, tertidur dalam mimpi yang menyakitkan.


28-05-18
-Rendy Saputra

Reactions

Post a Comment

0 Comments