Diskusi Dimensi Hati


Malam ini terlalu melankolis untuk kunikmati sendiri. Entah kenapa jari-jari tangan begitu lincah menari diatas papan ketik yang buram, ditemani melodi menyentuh Remember milik Yiruma malam ini terasa begitu nyata dalam sebuah cerita. Aku merangkai kata demi kata tentang seseorang yang seringkali singgah dalam semesta kepala. Entah siapa, aku tak pernah tau namanya, sebab ia hanya terlihat sepintas dalam bayang yang tak begitu pekat, memudar dalam waktu sekajap, kemudian hilang. Dalam bayangku ia tak begitu asing, tak begitu jauh untuk ketemui dan tak begitu sulit untuk kumiliki. Namun begitulah fana dalam kehidupan, semua seolah terlihat nyata padahal kita hanya dipermainkan imajinasi kita sendiri. 

Aku tak ingin berpuisi malam ini, karena terlalu cepat rasanya aku menggambarkan seseorang yang bahkan aku anggap nyata padahal hanyalah cerita yang berasal mimpi semata. Malam ini aku ingin bercerita pada hatiku sendiri yang penuh pertanyaan dan perdebatan. 
Malam ini adalah bulan kelima tahun kedua aku berkecamuk dalam kata-kata dan buku yang kini telah kuanggap sebagai dimensi lain untukku mencari tahu tentang ketidaktahuan selama ini. Namun aku baru saja memulai, baru saja mengenal sedikit dari segala hal yang ada di dunia ini. Tentang sebuah arti dan makna yang tersirat begitu dalam. Syair-syair cinta dan kehidupan telah jadi teman baruku dalam beberapa waktu yang telah lalu. Kini aku mengerti bahwa menjadi diri sendiri adalah kewajiban yang sebagian orang sering lupakan. 

Untukmu, hari ini apakah kita saling memikirkan ? di tengah suara-suara jangkrik yang lembab terkena embun. Untukmu, apakah kita saling berharap dipertemukan ? dalam kubah-kubah yang bertabur bintang yang mengangkasa. ah, Aku terlalu banyak berhayal ketidakpastian tentangmu yang bahkan aku tidak tahu apakah kamu benar-benar ada untukku, menunggu waktu mempertemukan kita dengan ketidaksengajaan, atau membiarkan semesta menjahili kita dengan badai cinta pertama. Aku merasa bahagia jika benar kau adalah orang yang berasal dari puisi-puisi sumbangku. Sungguh menyenangkan bukan ? Aku mulai berpikir bahwa syair-syair yang kutulis adalah doa-doa yang terselip tentang kita berdua. 

siapa kamu dalam puisi-pusiku ? kenapa aku harus membuat puisi yang harus melibatkanmu ? tidak, tidak. Aku tidak hanya membuat puisi tentangmu. Aku sering membuat puisi tentang alam, tentang udara-udara yang membelai mesra di sebuah belantara, tentang senja yang melahirkan rindu dan luka, tentang daun-daun tanggal yang diterpa angin atau tentang bintang-bintang yang nampak dekat dan indah di sebuah puncak gunung.

Tapi seperti yang kukatakan, Aku tak ingin berpuisi malam ini. Bukan karena suasana hati yang tak menentu, bukan. Aku hanya ingin menikmati malam ini dengan penuh angan, menatap apapun yang terlihat mata dan berbicara dalam hati sendiri, tanpamu, fana yang ingin sekali kujadikan nyata.

Mei, 2018
Rendy Saputra
Reactions

Post a Comment

0 Comments