Sang Pengelana

Sang Pengelana


Dibalik sajak-sajak pengelana terselip tentang dedaunan atau pohon-pohon yang asri, bintang-bintang malam tersaji indah dalam imaji puisi. Jika langkah berhenti tak ada lagi yang dapat menyembuhkan rindu terhadap fajar pagi ataupun senja petang seperti dulu lagi.

Tuhan, beri jeda waktu pada dinding-dinding kecemasan yang membosankan, aku ingin kembali pada kebesaran-kebasaran yang engkau sajikan pada alam, pada hutan-hutan yang dipenuhi lumut, atau pada embun-embun yang putih menyelimut.

Tuhan, beri aku waktu bernafas lebih lama lagi untuk sekadar beryukur akan rahmat yang engkau sajikan di semesta ini, tentang segala keangkuhan yang masih melekat pada jiwa-jiwa, atau tentang ke-egoisan yang masih berada di tingkatan paling tinggi raga ini. Aku belum berhenti untuk mencintai siapapun, termasuk orang-orang yang paling kubenci. Kehidupan ini adalah fana yang berisi pelajaran di dalamnya.

Aku berbangga pada topeng-topeng senyum bagai mawar-mawar berduri yang terlihat harum. Aku layaknya serdadu berkuda bahagia yang menyimpan pedang berlumuran darah. Sandiwara apalagi yang mesti kutahu dari manusia-manusia yang engaku ciptakan ?

Diksi ini seperti sebaris doa yang teringat akan dosa-dosa pada Sang Pencipta. Sang pengelana merindu langkah angin dan api malam. Sang pengelana mengharapkan penghapusan dosa yang diucapkan lewat larik doa malam. Dibalik wajah suram dan langit temaram, ia berharap banyak setara dengan bintang-bintang yang menghiasi malamnya. Semua orang terjaga dan menikmati dunia mimpi, sementara ia masih senang menyepi bersama harapan-harapan yang tak tau pasti akan seperti apa. Dirinya yang telemah dari siapapun ketika malam hari, semua isi hatinya berhamburan dan menyatu menjadi ribuan kata yang bermakna.

Mungkin esok tiba, mungkin juga lusa
Tak perlu risau, tak perlu kacau
Siang akan menjadi malam
Malam akan menjadi siang
Takdir telah tercatat pada kertas tuhan
Dan nasib telah tergaris pada tangan manusia
Jika kehidupan tak pernah dianggap adil, 
Mungkin itu kekeliruan dalam menafsirkan syukur
Semua yang bernyawa akan mati bukan ?
Tak perlu petik bintang malam, jika dikejauhan ia lebih nampak indah
Tak perlu mencapai langit, jika tanah adalah tangga menuju surga

Menuju langkah baru dari risau hati yang saling beradu, aku merindukanmu kasih, tentang apapun itu. Aku bukanlah pelukis yang bisa menuangkan gambar di dunia imajiku kedalam kanvas. Tapi aku bisa menikmati sendiri wajahmu ketika aku menutup mata, ketika tatapanku gelap. Dengarlah dari kemustahilan yang pernah menjadi nyata, bahwa cinta adalah nyata adanya, dan benci adalah musuh setia dirinya. Semua yang di dunia ini mempunyai cerminan. Dan kau tau tentang cermin bukan ? Semua berkebalikan. Kanan menjadi kiri, baik menjadi buruk, cinta menjadi benci. Semua itu adalah keseimbangan dalam semesta yang tuhan ciptakan untuk kita. Jika tak ada perbedaan maka persamaan tak akan pernah ada artinya. Tak akan ada tahta, tak ada lelaki dan wanita, semua yang dilihat mata akan terlihat sama. Jangan pernah benci tentang apa yang tak pernah terjadi, sebab semua hal telah tersusun sedemikian rupa dalam takdir-takdir kita. Percayalah aku merindukanmu. 

Sang pengelana kembali menyambung tidurnya yang belum selesai di masa lalu, ada mimpi yang harus ia tuntaskan, dan ada puisi-puisi yang mesti ia maknai. Selamat malamnya pada tuhan dan kekasih adalah pemurnian hati dan rasa syukur, bahwa ia masih bernafas seperti sedia kala. Salamnya pada malam untuk pagi bawalah embun terbaik untuk bunga-bunga yang menunggu esok hari, mereka butuh kehidupan layaknya kita dan dengan mentari yang menyala.

Salam Damai
Rendy Saputra

Reactions

Post a Comment

0 Comments