Mengabadikan Waktu


Aku memberhentikan waktu, dari kebosanan yang membelenggu
membidik bingkai-bingkai alam yang hampir temaram
senja menampilkan rona sekaligus mendatangkan rindu
aku membisu bersama keramaian, ditemani mentari tenggelam

riuh berperahu membelah angin petang
cahaya jingga seolah payung bagi sepasang asmara
ada yang tak sanggup terucap dari raga yang menyimpan kenang
mengabadikan waktu sungguh menghilangkan sengsara

semesta yang diciptakan tuhan sungguh indah bukan ?
adalah merugi jika tak membuatnya abadi
semua mata saling menengadah
melambai pada mentari yang telah pergi

Senja adalah hal yang biasa saja bagi mereka yang tak pernah mencintai makna dari sebuah aksara kata. Bagiku senja adalah keindahan yang menularkan sebuah rasa berbeda dari waktu kapan pun. Jika akhir tahun disemarakkan bagi sebagian orang dengan kembang api, maka senja adalah akhir dari hari yang pantas untuk diabadikan. Tak pernah ada yang tau kapan hidup akan menjumpai akhir, saat raga berada dalam ruang sempit di bawah pijakan manusia-manusia lainnya. Aku menghaturkan syukur dari jingga cakrawala yang begitu indah karena aku tak pernah tau apakah esok aku bisa melambaikan kepergiannya menuju bumi bagian lain. Hidup tak pernah terlambat untuk menyadari bahwa ada sebuah makna yang sangat berarti dari semesta ini.

Rangkaian kata bertubi-tubi keluar dari ruang kepala untuk membuat aksara makna dari senja. Dinding-dinding kecemasan runtuh diterpa kenangan lama akan hal-hal yang berbau senja. Aku lagi-lagi kalah oleh serdadu kata yang mampu menikam naluri dari hal-hal yang seharusnya tak kuragukan lagi. Pun aku bingung ingin dirangkai seperti apa puisi-puisi dari senja yang begitu indah, seolah tak ada kata-kata yang bisa keluar dari semesta kepala. Namun satu yang kutahu senja adalah satu rasa syukur yang begitu besar bagi manusia-manusia yang mengerti hikayat kehidupan.


Dan kini aku mengerti tentang sebuah keindahan lukisan Sang Pencipta, bahwasanya keindahan adalah masalah sudut pandang dari diri seseorang. Jika keindahan adalah hal mutlak maka itu tidak adil bagi mereka yang buta bukan ?. keindahan. Kebaikan bahkan keburukan lahir dari sudut pandang diri masing-masing seseorang. Ketika kita memandang itu baik atau pun Indah belum tentu sebaliknya sama bagi orang lain. Kita tak bisa menghakimi orang lain untuk menuruti kata hati diri sendiri bahwa apa yang kita lihat adalah hal yang harus menjadi benar. Tidak. Dunia tidak se-sempit itu, manusia hanya memiliki sepasang mata untuk melihat namun sepasang mata mampu memandang apapun di semesta ini. Manusia bisa memilih ingin melihat dari sisi mana pun sesuai inginnya. 

Aku melihat dunia secara luas, namun itu tak abadi dan bisa hilang dari ingatan kapan pun waktu ingin merampasnya. Namun aku memilih mengabadikan waktu itu dengan cara menangkap gambar-gambar yang bagiku indah hanya agar aku bisa menikmati kuasa Sang Pencipta kapanpun Aku mau. Senja tak selalu hadir setiap hari, bintang tak selalu menghiasi langit-langit malam hari, dan Aku suatu saat nanti akan pergi dari dunia fana ini. Aku tak bisa kembali ke masa lalu tapi aku masih bisa mengingat masa lalu dari waktu-waktu yang ku abadikan. Merindu itu indah bukan ? yang berat hanyalah tak bisa kembali ke masa yang dirindukan.

Pahami hakikat diri, maka rasa syukur akan terselipkan diantara detik-detik nadi.
pahami hakikat diri orang lain, maka rasa bahagia akan terselipkan diantara ruas-ruas jemari


April, 2018
Rendy Saputra

Reactions

Post a Comment

0 Comments