Fana



Rekayasa dan nyata terlihat sama
Riuh dan gaduh tak lagi utuh
Semua orang duduk dan menunduk
Aku berada diantara sudut-sudut pelataran
Sangat ramai namun fana
Sangat sepi itulah fakta

Pagi berganti siang, senja bersambut malam
Aku merindukan sederhana
Dari sekedar duduk dan berbicara semaunya
Kini semua berbaris bagai serdadu modernisasi
Memiringkan gawai tanpa pernah bermimpi

Tak ada jeda antara dunia nyata dan maya
Semua seolah sama
Tak ada damai dimanapun selain puisi
Aku menunduk dalam ruang paling sunyi
Mendengar detak jantung sendiri

Nada-nada pilu berarogansi menyayat kenang yang tak bisa hilang. Waktu kembali mengutuk segala luka agar tak pernah sembuh, diam-diam membukakan goresan masa lalu yang hampir meredup. Namun kini, kembali terasa hidup. Dimana suasana malam yang membawaku pada bintang-bintang dan obrolan sederhana. Membicarakan mimpi-mimpi yang tak tau arah, menunjukkan segala ego agar terlihat paling tinggi. Semua lenyap. Tak ada unggun yang biasa menghangatkan dikala rintik membahasi bumi. Secangkir kopi dalam sebuah lingkaran adalah kemewahan. Kemana semua itu ? Apa semua bisa seperti dulu ?.

Aku tak berani mungutuk waktu menjadi sesuai inginku. Masih banyak bahagia yang bisa ku kenang. Semua orang melahirkan dunianya sendiri bersama segala carut-marut yang tiada henti. Menunduk bersama kebodohan, membisu layaknya serdadu perbudakan.
Aku masih aku, bersama dunia yang tanpa jeda waktu untuk teringat masa lalu. Merangkai puisi-puisi di sebuah dunia yang kuciptakan sendiri. Kurasa itu lebih baik dan menenangkan bukan ?
Ribuan kata mengaduk isi kepala, saling mematahkan pikiranku sendiri dalam perdebatan-perdebatan yang tiada henti. Egoku menjadi ganda, terlahir dari ego yang telah tua. 

Tak ada yang lebih hening dari keramaian yang terlihat sepi. Tak ada yang lebih ramai dari sepi yang merindukan bahagia. Aku setengah mati memikirkan kata-kata yang tak berkesudah. Melumat semua tentang dunia yang tak sesuai logika. Aku menyerah mengutuk waktu yang selalu maju. Aku menyerah.
Tak ada yang bisa mencegah masa depan kecuali tuhan. Namun satu hal yang selalu kutahu. Kata-kata bukanlah permainan, ia berada dibarisan paling depan dari manusia-manusia yang sibuk dengan dunia fana. Puisi sederhana terlahir dari seorang fakir asmara, tak mati dibelenggu waktu, tak sirna dimakan zaman. 

Ketika sendiri adalah kehidupan yang nyata, dan keramaian adalah fana.
Aku berdiskusi dengan pikiran, tertatih melangkah merajut masa depan.

Akan ada dimana semua kembali semula, bercerita tentang wanita, masa depan dan impian. Sebuah ikatan terjadi dengan sangat rinci dalam nyata dunia. Begitulah manusia diciptakan dengan pemahaman. Tak ada lagi yang mampu merantai tangan-tangan pemimpi dikala ramai dan sepi. Semua akan kembali pada masanya, ketika manusia mengerti dilahirkan untuk menjadi apa.
Aku tak akan bergeming dalam hening bersama kepasrahan. Duniaku dan duniamu sama, tak ada yang beda kecuali waktu yang kita gunakan untuk apa. 
Aku menunggu segala cerita dari hari ini di hari esok, saat dirimu tak lagi terpenjara dalam semu. 

April, 2018
-Rendy Saputra
Reactions

Post a Comment

0 Comments