Terbelenggu rasa dan kehilangan jiwa

Terbelenggu rasa dan kehilangan jiwa


Ada berapa rasa dalam diri ini, 
yang seringkali bertindak sesuka hati
apakah ia ingin menunjukan diri ?

harap terus berada dalam genggaman
semesta kepala penuh dengan impian
apakah tak pernah ada tindakan ?

hilang hati ditelan ego sendiri
terkurung mencercah sampai mati
apakah penjara jiwa sangat sunyi ?

mata
hati
jiwa
raga
semua berkaitan seperti serdadu
menyerang segala musuh yang bertatap temu
menikmati sebuah perang yang begitu semu

Kutunjukkan segala rasa yang sudah semestinya menampakkan diri. Yang dulu terpenjara dan terbelenggu dalam dasar diri paling dalam. Ingin sebuah rasa keluar dan bebas menyapa segala yang dijumpainya, namun ego dalam diri ini terlalu kuat untuk dihancurkan, layaknya benteng besar dari batu yang berasal dari planet lain. Aku khawatir apakah rasa akan terus terpenjara bersama segala angannya, bersama segala upaya untuk menunjukkan segala harapnya kepada dunia.

berapa banyak manusia yang diam-diam menyimpan segala rasa, dan membiarkan semua sedih bersarang dalam dirinya. menjadi berpura-pura bahagia padahal dalam hatinya ter-iris meratapi segala sedih, yang sewaktu-waktu bisa menumpahkan tangis bagai kawah gunung berapi aktif yang telah lama tak menumpahkan lahar panasnya. Sungguh manusia bukanlah orang yang lemah. Mereka yang terlihat kuat dan baik-baik saja mungkin adalah mereka yang seringkali bersedih dan meratap akan segala perihal hidupnya di penghujung malam, menatap dinding kosong, ter-asingkan dari dirinya sendiri. Tidak ada manusia yang paling kuat ketika mereka tidak bisa menangisi diri sendiri, dan tidak ada manusia yang paling lemah ketika mereka tidak bisa menangisi kesedihan orang lain

Dalam diri ini seringkali terjadi selisih paham antara jiwa dan raga. Ego dalam diri ini tak pernah bersinggungan dalam keadaan baik dengan nurani. Ketika nurani ingin sekali menunjukkan rasa pedulinya, namun ego dalam diri ini lebih kuat menahan apa yang nurani ingin lakukan. Ketika nurani ingin sekali menunjukkan segala kesalahan yang telah dilakukan oleh raga, namun ego dalam jiwa ini menahan lebih kuat agar selalu merasa benar. Mungkin itulah alasan kenapa manusia seringkali tak ingin merasa bersalah  dan ingin selalu merasa benar atas kesalahan yang telah dilakukannya.

Ada rasa yang terbelenggu di dasar hati paling dalam. Menikmati ketakutan-ketakutan akan sebuah tindakan yang akan berakhir tidak sesuai kehendak. Raga kehilangan jiwa-jiwa. Tidak, mungkin jiwa telah mati dalam dirinya. Diri ini layaknya mayat hidup yang menikmati waktu tanpa rasa,tanpa cinta, tanpa keberanian untuk mengungkapkannya. Apakah ini kutukan dari masa lalu akan semua tindakan ? atau ini ujian untuk menghadapi masa depan ?

dalam detik kesekian kalinya, dalam hembusan nafas yang belum berhenti pada waktunya. namamu kembali menusuk kalbu, ia menyerupa tombak-tombak serdadu persia yang menghunus tanpa henti, menikam tanpa ampun.
Aku tak pernah berbalik arah untuk menyerah, karena diriku bukan lagi sebuah raga yang didalamnya bersemayam roh sunyi. Aku adalah cinta dalam diriku. tak mati terkubur tanah, tanpa musnah dihujani amarah.





Reactions

Post a comment

0 Comments