Manusia pemalu itu orang tuaku


Manusia pemalu itu Ibuku
tak bisa memuji kelebihanku
tak bisa menasihati tanpa memarahi kekuranganku
ia manusia pemalu

manusia pemalu selain Ibu adalah Bapak
ia lebih pemalu dari Ibu
tak pernah memarahi dan tak pernah menasehati
namun dalam diamnya, aku mengerti bahasa seorang lelaki

ntah siapa malaikat diantara aku dan mereka
bagiku mereka adalah malaikat kasih
bagi mereka aku adalah malaikat jiwa
orang tuaku malaikat yang pemalu

aku tersenyum melihat keromantisan mereka
aku tertawa melihat bercandaannya juga
namun aku seringkali membisu dihadapan mereka
ternyata aku juga seorang anak pemalu

Ada yang suka berteman dengan sepi. Berbicara namun bisu, menyayangi namun tak mengatakan, melihat namun tak menatap. 
Aku terlahir tanpa tahu alasan dilahirkan. Berbicara tanpa mengenal aksara, melihat tanpa mengenal cahaya, berjalan tanpa mengenal langkah.
Jika kepalaku mampu mengingat lebih banyak tentang masa lalu, mungkin aku akan memutar kembali ingatan ke masa itu. Melihat dua orang malaikat yang kini bisu dihadapanku, malu menatap dan bicara tentang segala keluh kesah.  Aku ingin melihat senyum bahagia yang terlahir tiba-tiba pada raut wajah mereka. Tertawa saat aku bahagia, bahagia saat aku tertawa. Aku ingin melihat keuletan mereka menopang langkah demi langkah diriku yang gontai, melihat mereka yang saling senyum dan bertatap tatkala aku berhasil berucap sebuah kata. Aku ingin melihat mereka tanpa malu, tanpa ragu, dan tanpa semu diantara segala pilu.
Dua kata, Aku rindu.

Kini, hangat tiba-tiba menjadi dingin. Menjadi dewasa itu menyebalkan, atau menyebalkan itu salah satu syarat menjadi dewasa. Egois itu menyakitkan dan pemalu itu menakutkan. 
Kini hanya doa-doa yang saling bicara, jiwa-jiwa yang saling bersahutan, dan segala keluh kesah diam-diam menjadi rahasia paling sempurna. Lebih baik terluka lutut kaki daripada hati. 
Satu titik peduli untuk mengatakan cinta dan sayang kini mulai hilang. Tidak kurasa bukan hilang, ia hanya bertransformasi menjadi doa-doa yang tak pernah terdengar untuk orang yang didoakan.

Menulis semua ini membuat senyumku terasa abadi, mengingatkan aku akan rasa syukur yang teramat sakti. Aku tak pernah menyesal menjadi Aku saat ini karena rasa syukur yang begitu besar. 

Bapak, Ibu. Kita mungkin tak lagi sehangat saat aku dilahirkan, saat aku belajar merangkak, saat aku belajar menulis, saat aku sakit, saat aku berbuat salah serta saat menangis dan tertawa. Kini hangat kita bukan lagi sebuah pelukan, bukan lagi tatapan, bukan lagi nasihat dan wejangan dari kalian untukku. Namun dalam diam seolah dingin itu terucap nasihat yang paling terdengar di telingaku, dalam tatap yang terlihat dingin itu seolah kehangatan paling terang dalam mataku.

Waktu tak akan pernah berhenti merampas diri ini. Menjadikan kita lebih berani, dan lebih penakut. Ambigu memang, namun begitulah kenyataannya. Kasih dan sayang mungkin bisa dimengerti saat semuanya beransur tak peduli, menjauh namun nyatanya semakin dekat. 

Doa kita bersahut-sahutan di atas langit, mengamini dan menyemogakan.
Terpatri diantara jiwa-jiwa yang abadi, tak rapuh berada di dasar sebuah hati.

Aku senang berandai-andai, tentang apapun itu. Karena selain sepi mampu melahirkan puisi, ia juga diam-diam melahirkan doa dari dasar hati paling sunyi. Dan aku yakin semua doa itu pasti didengar oleh Sang pencipta, kadang aku hanya lupa pernah berdoa tentang itu dimasa lalu, dan doa itu akhirnya terkabul di masa depan. 

Aku berbohong untuk tidak sayang, berbohong untuk tidak peduli. Bukankah Bapak dan Ibu juga seperti itu ? Tak perlu diucapkan, aku masih ingat dan sadar saat tiba-tiba seluruh tubuhku diselimuti seseorang. Aku yakin itu bapak. Aku juga masih ingat dan mendengar siapa yang menyuruh Bapak untuk menyelimutiku. Aku yakin itu Ibu. Itulah rahasia yang tidak bisa dianggap rahasia. Semua orang tau itu. Namun kurasa menjadi pemalu itu menyenangkan. Kelak Aku akan mengerti akan itu.

Biarlah semua diam namun saling mendoakan.
Biarlah semua tak menatap namun saling mendekap.
Kutitip doa di penghujung malam, agar semuanya tak lagi diam.


Maret 2018
-Rendy Saputra-



Reactions

Post a Comment

0 Comments