Jatuh untuk Bangkit


Lagi, aku menemukan sebuah jatuh yang kecil namun menanggalkan angan. Bermain kata di lorong sempit dan ramai, namun sunyi menyelimuti. Diksi tersaji bagai anak panah. Melesat tanpa bidikan, namun menancap tepat sasaran. Bolehkah aku berpuisi ? Jika hari ini belum mewakili hatimu, kau bisa datang lagi kapanpun saat hatimu perlu untuk ditemani puisi ini.

apa hanya aku ?
Yang merasa diterpa angin kencang dan raga hilang keseimbangan.
Angin tak berhenti kencang, ia dengan tega menikam
Angin ini adalah gambaranku tentang hal yang tidak perlu kau tahu.
Kelak, itu akan terjadi padamu.

Apa hanya aku ?
Yang menjadikan senyum topeng dari kesengsaraan,
Dan menjadikan tangis sebagai jubah kebahagiaan.
Aku terlalu pandai berganti diri dengan sempurna,
Terlihat bahagia padahal sebaliknya.

Apa hanya aku ?
Tak perlu kau jawab pertanyaan dari sedih yang berulang.
Jawaban adalah sebuah pecah yang indah,
Seni mencari yang kekal dan abadi.
Aku menengadah di langit malam untuk sebait doa.
Kuharap kau mengamini itu semua.

Lalu apakah aku terlihat bodoh ? Atau sebaliknya ? Sudahlah, tak perlu cari jawaban dari permainan kata. Aku telah menangkap daun yang belum menyentuh bumi, padahal angin begitu kencang meniup sebuah pohon yang hampir tumbang. Atau pohon itu terlalu kuat untuk ditumbangkan. Aku ingin menjadi sepertinya, tapi aku mempunyai kaki untuk berpijak di bumi, bukan untuk menghujamnya. Mungkin aku hanya perlu menjadikan pohon sebagai teladan, tak tumbang diterpa topan, meneduhkan meskipun disinari sengat mentari. Ya, aku tidak harus sepertinya, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri yang berisi sifat kepohonan yang abadi. Aku tak punya akar namun aku punya akal, aku tak punya daun-daun namun aku punya sifat yang tekun. 

Itulah aku sekarang, manusia yang masih seperti dulu. Tapi kini aku berhasil menaiki satu anak tangga. Aku tidak sendiri untuk bisa seperti ini. Aku dibantu temanku, ia adalah sabar yang aku hidupkan dalam diri ini. Aku belajar banyak hal darinya, bahwa menggapai angan itu bukanlah sebuah hal singkat. Terima kasih sabar dalam diriku, kuharap kau juga berteman dengan sabarmu.

Kau masih ingat tentang waktu ? Tak perlu diingat. Tak perlu tau siapa yang abadi diantara kita dan waktu. Ia hanya menjalankan tugas untuk tidak berhenti barang sejenak, seharusnya kita juga seperti itu, tak perlu menyalahkannya yapi berjalan bersamanya. Ia adalah sayap yang perlu kita bentangkan, bukan melayang dikeabadiannya. Waktu memberi kita jeda untuk bernafas dan sekaligus memberhentikan nafas itu. 

Yang hidup menyesal terlahir,
Yang mati menyesal tak hidup berarti.
Jika hidup tak selalu menguntungkan, maka berdoalah.
Jika sebaliknya maka bersyukurlah.
Hidup berisi pilihan untuk menjadi seperti apa.

Kini aku memberi semburat senyum pada dunia, kelak, aku memberinya hadiah. Ini rahasia, bahkan aku belum menyiapkannya. Jika kau punya hadiah untuknya, kuharap ia suka, begitu juga denganku. 
Untuk angan, tumbuhlah seperti waktu, cepatlah seperti cahaya. Aku tak ingin lagi melihatmu hanya sebagai angan, aku ingin kau berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Salam dariku untuk perjalanan agar ia tak lelah mencapai sebuah tujuan. Berteduhlah di antara pepohonan yang rimbun, ia tak meminta imbalan, kau hanya perlu menyayanginya sebagai ciptahan tuhan.

Maret, 2018
-Rendy Saputra
Reactions

Post a Comment

0 Comments