diam adalah melawan

diam adalah melawan



 Sebenar-benarnya hidup sebagai manusia, tidak akan bisa tanpa menyalahkan sesalah-salah manusia lainnya.

Realita hidup terkadang memang sulit diterima dengan lapang dada. Namun seperti inilah kenyataan hidup yang sebenarnya.  Jalan hidup tak selalu mengajari tentang kenyamanan dan kemudahan, namun banyak hal yang mesti dilewati. Menjadi apa yang diri ini inginkan sungguh sulit jika tidak dilakukan dengan sabar dan bersungguh-sungguh. 

Akan tiba waktu ketika dalam sebuah proses menggapai mimpi, seseorang akan terjatuh di awal. kenapa di awal ? karena ketakutan dan memikirkan hasil akhir apa yang akan diterima. Gagal misalnya. ketika seseorang takut untuk gagal akan mimpinya, maka itu akan terus menghantui segala proses dalam menggapai mimpi. Ketakutan itulah yang membuatnya tidak bisa bangkit lagi. Karena  hanya menganggap semua itu hanyalah kemustahilan belaka. Bukankah tidak ada yang mustahil di dunia ini jika kita bersungguh-sungguh.

Aku akui bahwa keinginan yang besar untuk suatu pembuktian malah akan membuat kita sendiri menelan pil penyesalan. karena apa ? karena seseorang tidak bisa langsung menjadi apa yang ia inginkan, jadi mesti sabar. nah, dalam proses sabar ini seseorang akan menemukan sebuah rintangan besar, misalnya dianggap mimpinya terlalu besar, terlalu tinggi, dihina, direndahkan, diremehkan dan hanya dianggap sebagai seorang pecundang yang bersembunyi di balik mimpi-mimpinya. dan yang paling menyakitkan dari itu semua adalah bahwa yang menganggap sebuah impian seseorang itu terlalu besar adalah orang-orang terdekat dari dirinya. Aneh bukan. Namun begitulah kenyataannya. 

Tidak semua orang-orang terdekat percaya akan kemampuan diri seseorang, karena mereka hanya tau keadaan luar seseorang, namun tidak tau keadaan sungguh dalam hatinya. Disinilah kesabaran hidup seorang pemimpi diuji. Maka dari itu Diam adalah melawan. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa, namun tidak membalas segala penghinaan dengan emosi melainkan dengan pembuktian nyata. Buktikan kalau diri ini bisa. Ingat, orang besar bukanlah orang yang mampu melawan seluruh orang di dunia, melainkan membuat pembuktian pada orang terdekatnya bahwa dia bisa. Banyak sekali mereka yang dianggap remeh oleh orang terdekat namun mampu membuktikan bahwa mereka benar-benar bisa. Di Indonesia saja contohnya, Habibie. Sosoknya bahkan tidak diterima di Negeri ini namun mampu membuktikan bahwa dia bisa. Dia tidak harus melawan dunia, tapi melawan keinginannya sendiri untuk menyerah. 

Dan semesta tak pernah lupa,
akan doa-doa di masa lalu kita
sebuah angan kecil yang terlupakan
layaknya debu yang beterbangan 

bukankah gurun pasir itu luas
apakah disana diisi mayat-mayat orang tersesat ?
bukankah lautan itu ganas
apakah disana terdapat bangkai-bangkai kapal yang tenggelam ?

jika matahari adalah mata dari semesta ini,
harusnya ia tak lagi bersinar melainkan bersedih
awan-awan akan menyembunyikannya dan menumpahkan hujan
gurun pasir tak lagi tandus, lautan jua tak lagi asin 

dan pemimpi masih bertahan pada impiannya
isi hati tak lagi menentu, keinginan tak kunjung didapatkan 
lalu tuhan kabulkan doa lamanya
ia teringat. Dulu ia di dasar lautan, sekarang ia di permukaan

Ingatlah bahwa hari ini terselip doa-doa dari keinginan yang selalu kita semogakan. Hidup belum berakhir tanpa mati. Jika masa depan tak layak memberi kita tempat istimewa untuk diri ini, yakinlah bahwa belum waktunya. Mungkin tuhan belum mengabulkan doa kita atau kita yang belum berdoa dengan sungguh kepadaNya.

Reactions

Post a comment

2 Comments