Merindu atau dirindukan


Waktu, membebaskan kita dari sebuah pilihan
menenggelamkan cahaya bintang-bintang tatkala gerhana bulan berlabuh terang
aku masih suka melukisnya, para burung-burung malam yang hinggap di ranting kering
menyanyikan lagu kesukaan kita di pelataran pasir pantai kala itu

apa kau masih ingat berapa banyak senja yang kita habiskan bersama ?
saat kau bercerita tentang masa depan kita berdua
aku ingat, ketika kau berandai tentang kelahiran anak-anak kita yang lucu
 kau bilang, gabungan nama kita berdualah yang akan kita beri untuknya

aku masih suka merindukan senyummu yang sesekali membuat tatapanku beku
aku juga suka merindukan tingkah lakumu yang manja dan menggemaskan
dan aku selalu suka memainkan rambutmu ketika kau bersandar di bahuku
siapakah lelaki beruntung yang kini bersamamu ? akan ku ucapkan selamat untuknya

oh  iya, aku lupa, kau pernah bilang bahwa akan selalu bersamaku sampai kapanpun
lalu, apakah tidak ada lagi lelaki beruntung selain aku ?
yang senantiasa membelai wajahmu ketika dalam pangkuanku
bahkan, bulan dan bintangpun merasa malu melihat keromantisan kita berdua

sekarang tak ada lagi kemesraan dibawah langit malam
kau dan aku serupa awan-awan mendung yang menumpahkan hujan. Berpisah.
siapakah yang pantas dirindukan ?
dan siapakah yang pantas merindukan ?

Februari, 2018
-Rendy Saputra-





Reactions

Post a Comment

0 Comments