Makna dari Cinta


Aku, kamu atau siapapun. Semuanya memiliki cinta sejak dilahirkan, bahkan sejak masih dalam kandungan.
Aku ingin bercerita tentang satu hal mengenai cinta. Tidak. Ini bukan definisi tentang cinta, tapi bagaimana cinta itu sudah kita miliki dan tidak akan pernah hilang dalam diri ini.
Sebelum memulai cerita dengan penuh tanda tanya ini, semua orang pasti memiliki definisi cintanya masing-masing. Jadi apa definisi kalian ? 
Aku telah banyak menulis diksi tentang cinta, dan sewaktu waktu itu bisa berubah.

Cinta bukan itu dan ini. Bukan ialah dan adalah. Cinta bisa saja setinggi bumi, bisa juga serendah langit. Cinta bisa seterang malam, bisa juga segelap siang. Cinta, definisi tidak mutlak seluas semesta.

Iya, begitulah cinta menurut definisiku untuk saat nanti. Berbeda dari yang dulu dan akan berbeda lagi nantinya. Kenapa bisa begitu ? Inilah yang mesti aku jelaskan.

Kita seringkali menganggap cinta adalah hal yang identik dengan para pasangan yang sedang menemukan separuh hatinya. Itulah yang dikenal dengan istilah Jatuh Cinta. Aku tidak terlalu setuju akan hal itu. Karena bagiku cinta tidak se-sempit itu. Sungguh dunia tidak adil jika cinta hanya bisa dirasakan bagi mereka yang sedang merekahkan hati pada pasangannya. Dan mungkin kita juga baru menyadarinya, bahwa kita juga berada pada peradaban yang memakai istilah itu. Tentu itu tidak salah, dan bukan juga salah siapa-siapa. Aku hanya bingung bagaimana jika ingin menggambarkan perasaan cinta kepada orang lain selain pasangan. Orang tua misalnya. Apakah kita harus memakai istilah jatuh cinta juga ? Lalu ketika kita ingin menggambarkan betapa bahagiannya kita bersama teman, keluarga dan orang yang kita sayangi. Apakah kita anggap itu juga sebagai Jatuh Cinta ?
Sebenarnya istilah itu tidak salah, hanya saja kita telah melekatkan istilah Jatuh cinta itu pada hal yang hanya menyangkut pasangan hati. Kita lupa bahwa cinta adalah diri kita sendiri. Hal yang sudah kita bawa sejak dilahirkan. Tak peduli untuk siapapun dan dimanapun, cinta tetaplah cinta. Kita tidak perlu tau apa istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Cinta orang tua, keluarga, sahabat teman atau apapun di dunia ini, terutama sang pencipta. 

Disinilah aku ingin semua orang tahu bahwa cinta adalah hal yang mutlak berada pada diri sendiri, sekaligus mempunyai definisi tidak mutlak seluas semesta ini.
Jangan takut untuk mengatakan kecintaan terhadap hal lain hanya karena tidak ingin disebut menyalahi istilah, ataupun bingung untuk menggambarkannya.
Ingat, cinta adalah diri kita sendiri. Selagi kehidupan masih berjalan, cinta tidak akan hilang. Ia akan tertanam dalam sebuah hati. Kita bisa memberinya pada siapapun tanpa takut kehabisan cinta. Dan saat kematian bahkan cinta kita masih ada, melekat pada orang-orang yang kita tinggalkan.

Mulai hari ini, ungkapkanlah cinta pada orang sekitar, sebagaimana gambaran terhadap kecintaan kita pada dirinya. Tegakkan kepala pada langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Itulah cinta. Ketika langit senantiasa membiarkan bintang-bintang memeluk dirinya. Tundukkan kepala pada tanah yang ditumbuhi ditumbuhi rumput-rumput liar. Itulah cinta. Bagaimana tanah bersedia menampung rumput tanpa menyalahkan hujan yang menyuburkannya. 

Di zaman sekarang semua orang akan beranggapan bahwa mereka yang tidak mempunyai pasangan hati adalah mereka yang tidak memiliki cinta. itu adalah kesalahan besar. Kita bisa mencintai diri kita sendiri dan siapapun itu tanpa harus mengatakan cinta. Cinta bukan hanya tentang mendapatkan balasan, namun bagaimana cinta pada diri kita tidak menimbulkan  kebencian. Itulah Cinta. Dan aku bersyukur mempunyai cinta di dalam hati ini.

Februari, 2018
-Rendy Saputra









Reactions

Post a Comment

0 Comments