Ketika malam menghidupan segala rasa


lagi, lagi dan lagi, suatu waktu yang biasa aku sebut malam membuat perasaan, pikiran, keadaan dan segala rasa berkecamuk dalam semesta kepala. Malam seakan menumbuhkan sepi dari bibit masa lalu yang aku tabur dengan segengam pupuk paling magis di bumi ini. Ia membawa sepi seolah angin yang mampu melewati apa saja, bahkan tak ada ruang pengap yang tidak bisa dimasuki olehnya. Dan tak hanya sepi yang malam suguhkan oleh diri ini. Bisa bahagia, sedih, suka, duka dan tawa. Jika boleh kudefinisikan, malam adalah segala rasa yang ada di dunia ini. Ia tak hanya sekedar gelap yang mementaskan bintang-bintang di langitnya, tak juga kubah temaram yang menjadikan bulan pemberi cahaya baginya.

Sungguh, aku menyukai malam hari dengan segala rasa dan suasana yang ia beri. Puisi-puisiku tercipta sedikit-banyak dari gelap dan dingin yang aku rasa, dikala ia datang membawa sepi kepada raga ini. Diksi-diksi tercipta bukan karena disengaja, melainkan lahir dari suasana malam yang begitu istimewa.

Aku pernah merasakan malam diatas ketinggian yang begitu dingin, namun obrolan sungguh terasa begitu hangat. Di depan tenda berhias bintang dilangi, secangkir kopi dan  perapian, sungguh bermalam di atas gunung adalah hal yang tidak akan bisa dibayar dengan apapun. Bercengkrama dengan pembahasan yang sederhana namun membuatku mengerti betapa besarnya Tuhan yang telah menciptakan semesta ini, sekaligus membuatku sadar betapa kecilnya aku sebagai manusia dibumi ini. Seringkali kita lupa bahwa kita adalah manusia yang diciptakan tidak sempurna, namun kita diberikan keistimewaan yang begitu luar biasa.

Aku juga pernah merasakan suasana malam di pelataran pantai. Juga dihiasi bintang-bintang yang tidak kalah menawan. Bulan menjadi dua dengan pantulan bayangnya di lautan. Dan tak ada nada yang lebih indah selain deburan ombak yang menyapu tepian atau karang. Sungguh alami, seakan alam mengerti bahwa kita adalah teman sejati baginya. Ia tunjukan kita sebuah rasa pada kejenuhan dunia yang sudah tua ini. Kita juga lupa bahwa tak selamanya hidup mengajari kita buta, tuli, dan bisu. Menjadi lupa bahwa kehidupan yang satu kali ini sungguh sangat berarti. 

Malam memberi rasa yang begitu melimpah dan kebahagiaan yang sangat sederhana. Darinya aku mampu bernyanyi riang bersama sahabat, menikmati segala canda yang tidak akan bisa dilupa. Sungguh, kesabaran membawa kita pada keindahan seutuhnya. Senja yang indah memang hanya sementara, namun jika bersabar sebentar, malam akan datang membawa segala kemungkinan-kemungkinan yang nantinya akan terangkai menjadi apa saja. 

Percayalah bahwa malam tak hanya melahirkan sepi dan rindu. Tapi lebih dari apa yang tidak mampu kita ingat. Malam mengajari kita untuk selalu percaya bahwa akan ada waktu dimana hati dan pikiran kita tidak selalu sedih dan tidak selalu berselimut duka. Mengertilah bahwa tuhan menciptakan kita adil dengan segala pasang kemungkinan. Sedih akan bahagia, sepi akan ramai, duka akan suka, datang akan pergi, menangis akan tertawa, hujan akan reda, dan banyak lagi. Semua diciptakan tidak tanpa pasangan. Dan yakinlah pada waktunya, pada detik dan menit yang tidak pernah kita tahu. Aku dan kamu akan menjadi kita. 

Salam Damai.
-Rendy Saputra-



Reactions

Post a Comment

0 Comments