kuramaikan sepi dengan puisi


Ada pagi yang kusambut tanpa mentari dan ucapan selamat pagi
Tiada siang yang kujalani tanpa kenang dan kasih sayang
Sore berlanjut memanggil senja, aku masih sendiri menatap jingga.
Cakrawala menggelap, malam datang tanpa diundang
Aku hanya ditemani ribuan bintang, duduk sendiri di pelataran bumi yang kau pijaki
Sepi kujadikan puisi, sementara rindu menjadikanku belenggu
Tiba di penghujung malam yang dingin, kau masih saja membuat ku ingin
Ingin berada di sebuah kubah asmara yang beralaskan kasih dan sayang
Ingin memelukmu di persinggahan cinta, saat hujan membasah kuyupkan perasaan kita
Jiwaku masih sepi, sendiri. terlalu banyak rindu yang tertampung dari masa lalu
Jiwaku tidak juga tenang. Tersimpan banyak kenang, dari kelampauan yang mulai usang
Bait pertama kurangkai dengan senyum bahagia, saat tuhan mempertemukan kita di sebuah kota
Bait kedua kurangkai dengan banyak tawa, saat hati kita mulai merasakan kehangatan cinta
Dan tiba di bait selanjutnya, aku tak lagi bisa tersenyum. Ujung pena mulai tertekan keras di pertengahan kertas
Di pengakhiran kata, tak ada lagi tentang kita. Sajak ku berubah air mata. Memoriku teringat akan bahagia yang lama
Tak ada lagi tawa, semuanya hanya tentang perpisahan yang berujung sebuah kenangan
kuceburkan lagi diri ini di halaman selanjutnya sebuah catatan, berhenti. Tak ada kata lagi yang mampu kutulis. semua berakhir. pertemuan dan perpisahan kita adalah sebuah takdir
Kubalik lagi halaman catatan sebelumnya, sebuah sepi telah menjadi cerita yang terpatri di hati
Aku tersenyum kembali. Sekarang aku telah mengerti, bahwa sepi adalah caraku untuk melangkah lagi


Reactions

Post a Comment

0 Comments