Perang tanpa akhir


Terlalu banyak perang di dunia ini yang tidak berkesudah.
Golongan baru semakin banyak diciptakan, berdiri gagah meneriakkan kebenaran.
Entah apa tujuannya ? Namun alasan mereka selalu sama. Atas nama kedamaian dan keadilan.
Aku merasa berada di antara titik tengah lingkaran para barbarian yang mengacungkan senjata untuk siap menyerang.
Tapi bukan pedang yang mereka acungkan, melainkan hujatan dan makian. Kesalahan golongan lain bagi mereka adalah titik lemah dan pertanda perang telah dimulai.
Mereka juga tak membawa tameng baja,  melainkan nama besar sebuah golongan yang menjadi benteng pertahanan.
Aku terbisu, terdiam, mematung. Berpendapat saja dikira menghina, memberi saran disuruh berkaca diri.
Sebegitu pelik era digitalisasi ini ?
Aku berpikir keras untuk menyadarkan semuanya. Tapi mustahil. Aku hanya segerintil dari banyak manusia yang berpikiran sama.
Golongan antar golongan beradu tikam, merasa paling hebat, paling benar. Terdapat sebuah kelucuan dari semuanya, yang dengan lantangnya mereka teriakkan "ini semua untuk keadilan"
Lalu aku bertanya dalam hati. Apakah keadilan harus dijalankan dengan berperang ? Apakah kedamaian akhir dari peperangan ?
Dunia sudah setua ini bertahan. Jika bisa, mungkin ia akan meleburkan diri sekarang juga agar damai itu tercipta. Dan saat itu kita akan benar-benar terlahir sebagai manusia, dengan apa yang telah kita jalankan sebelumnya.
Di era globalisasi ini, tak adakah yang lebih penting dari sebuah hujatan ?
Terlalu banyak kaum barbarian yang berperang mengacungkan kalimat makian bukan pedang.
Membuat tameng atas nama besar golongan.
Lalu semuanya serentak menjawab " kamu salah saya benar", "ini semua demi keadilan, demi kedamaian".
Kesalahan golongan lain adalah tanda dimulainya perang.
Terdapat sebuah kelucuan dari semuanya, bahwasanya mereka  merasa manusia paling sempurna yang tuhan ciptakan di dunia.

Desember, 2017
-Rendy Saputra

Reactions

Post a Comment

0 Comments