Gunung dempo, Sebuah Perjalanan #2

Gunung dempo, Sebuah Perjalanan #2



DEMPO,APRIL 2017

           Hari itu seakan cepat berlalu, para pengunjung yang berada di sekitar posko pun mulai sepi. Orang-orang yang datang sejak dari siang sudah mulai berpulang kerumah. Melewati liku jalan menurun dihiasi pepohonan dan kebun teh membuat jiwa tak ingin pergi meninggalkan keindahannya.
Langit menggelap, kerlap-kerlip lampu kota pun semakin mengkilap. Azan maghrib terlantun bersahutan dari seisi kota, terdengar bergemuruh dari ketinggian. Gerimis menjadi transisi antara siang dan malam.
Dingin dengan tenang menerpa tubuh kami dari balik tenda itu.
Kopi terseduh, gerimis tetap konsisten dengan jatuhnya. Jaket tebal pun tertembus dengan dinginnya malam itu. Awan semakin mendominan menutup celah cahaya bintang. Sunyi. Sepi.
Kami tak banyak bicara, hanya memandang sebuah kota yang dikelilingi barisan bukit yang menjulang, terlihat seperti sebuah kuali besar. Lampu tertata rapi memanjakan mata dari ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut pada malam hari. Mungkin inilah asal mula nama kota pagaralam. Kota itu benar benar dikelilingi barisan bukit. Sulit sekali untuk melihat pesawat terbang disekitar sini. Kami memang tak banyak berkata kala itu namun dalam hati kami masing-masing masih meminta banyak harapan agar besok jalur pendakian sudah dibuka. Entah itu keajaiban atau semacamnya. Tapi yang jelas kami ingin sekali merasakan bagaimana rasanya berada diatas sana.
Segelas kopi yang tadiknya hangat berangsur dingin dengan cepat menyeragamkan cuaca sekitar, waktu terus berlalu tanpa menunggu. Kopi pun sudah habis tak bersisa.

    Malam itu kami tidur lebih awal sekitar pukul 9 malam, tanpa api unggun seperti bayangan kami saat orang lain mendaki. Tak banyak banyak kisah dan cerita yang kami obrol kan. Hanya sebatas membayangkan ; apa yang dilakukan anak-anak satu tongkrongan saat itu ? sementara kami sudah mengurung diri di dalam tenda dengan jaket tebal membungkus badan, topi menutup kepala, dan tas tidur menutupi sebagian tubuh yang kedinginan. Karena gerimis bukan makin reda malah makin menjadi hujan yang cukup deras. Kami pun terlelap entah pukul berapa dengan nyanyian jangkring dan rintik hujan yang menyentuh atap tenda.
Malam itu aku mengerti arti sebuah kehidupan yang sebenarnya. Dengan jauh dari orang terdekat, dan rindu ingin berpulang yang cukup hebat.

Pemandangan Bukit Jempol

Dinihari pun kami terbangun, mungkin sekitar pukul 3 pagi. yang pasti hujan telah reda, awan telah pergi entah ke mana. Membuka tabir gemerlap bintang yang menderang. Ingin ku gapai satu bintang agar bisa dibawa pulang, karena ribuan bintang yang terasa sangat dekat itu, membuat ku ingin terbang untuk menggapai nya. Sungguh, tak ada yang lebih indah dari ciptaannya, Allah sang pencipta. Kopi terseduh lagi untuk keberapa kalinya tanpa kompromi, sebab dingin semakin menjadi jadi. Tubuh kami semakin dingin bahkan menembus kulit menghentam tulang. Minyak goreng yang sudah digunakan saat kami merebus mi instan sore tadi telah membeku. Kami tetap bersetubuh dengan jaket tebal dan tas tidur, tatapan kami tak henti memandang garis cakrawala, berharap pagi cepat tiba, agar sang fajar siap untuk menghangatkan tubuh yang bahkan membuat kami tak ingin beranjak keluar tenda, padahal hujan telah reda.
Malam telah berganti pagi, satu persatu lampu rumah seakan menghilang tatkala dipadamkan. tak ada gerimis yang menjadi transisi seperti sore kemarin. Namun mentari tetap saja tak membentangkan kehangatannya dengan utuh. Cahaya hanya melawati celah awan yang naik secara perlahan. Tapi keindahannya tetap mempesona, membawa raga kami keluar dari tenda dan ingin menikmatinya.

pemandangan Bukit jempol Lahat dari tugu rimau
Kebun Teh Gunung Dempo
kebun teh dempo pagi hari

   Pagi itu sungguh indah, cakrawala jingga dan pepohonan hijau memanjakan mata dan membawa kami pada kehangatan. Meskipun embun masih melayang disekitarnya. Pemandangan pagi kebun teh seluas ribuan hektar itu membawa kami pada obrolan yang hangat. Puncak dempo yang sejak kemarin tertutup awan pagi itu menampakkan kemegahannya. Kami masih saja berandai-andai agar bisa memijakkan kaki disana, paling tidak di puncak dempo saja tidak perlu ke kawahnya. Karena puncak gunung dempo mempunyai puncak dari gunung disebelahnya. Yang pertama top dempo itu sendiri dan yang kedua sering disebut puncak merapi Dempo. Dua gunung ini hanya dipisahkan oleh lapangan luas yang biasa di sebut pelataran oleh pendaki, dan juga sebagai tampat ngecamp para pendaki sebelum summit ke puncak merapi dempo atau ke puncak yang ada kawahnya. Sedangkan untuk jalur pendakian dempo sendiri terdiri dari dua jalur. Yang pertama jalur Kampung 4 dan yang jalur tempat kami berada, yaitu Tugu Rimau.
Kami hanya berharap untuk bisa meninjakan kaki di top dempo saja, karena jarak antara top dempo dan kawah merapi dempo juga cukup jauh, apalagi erupsi yang terjadi sudah mulai berangsur menurun. Akhirnya kami berniat untuk meminta izin lagi ke panjaga posko (kuncen) agar bisa pergi mendaki ke top dempo.


gunung dempo

Sekitar pukul 8 pagi, si uwak yang berjaga di posko akhirya tiba disaat kami sedang menikmati indahnya suasana. Akhirnya kamipun pergi menemuinya untuk meminta izin lagi untuk keatas. Dan kebetulan juga ada sekitar 5 orang pendaki dari palembang yang meminta izin buat mendaki. Namun mereka tidak diberi izin seperti kami kemarin, hanya diperbolehkan mendirikan tenda di sekitar posko.namun 3 orang dari mereka mendirikan tenda dan 2 oranng sisanya diperbolehkan keatas hanya untuk melihat dan menikmati jalur pendakian. Akhirnya kami juga meminta izin untuk mendaki sampai top dempo saja jika kami sanggup dan mampu sampai puncak. Tapi kami diberi syarat agar jika tidak mampu lagi mendaki untuk segra turun, dan si uwak yang juga masih punya ikatan keluarga dengan saya ini memberi nomor hp nya ke kami dan sebaliknya. Supaya kami ataupun beliau bisa saling menghubungi. Dan beliau pun berpesan agar bisa turun sebelum malam. Kamipun mengiyakan, karena kami juga akan memutuskan untuk pulang sore nanti setelah turun dari atas.
Persiapan pun selesai, kami hanya membawa satu tas carrier berisi 2 botol minuman besar berisi penuh,3 mie instan dan kompor portable. Kami sepakat untuk bergantian membawa carrier di perjalanan nanti. Akhirnya kami pergi dengan langkah keyakinan dan doa keselamatan. Sementara 2 orang pendaki yang berasal dari kota palembang itu belum pergi, mereka memilih untuk membantu teman yg lain mendirikan tenda.
Baru berjalan sekitar 10 menit kami bertemu dengan 9 orang wisatawan yang kami kira juga ingin mendaki keatas. Ternyata mereka hanya melihat sekitaran jalur pendakian dan mengambil gambar. Kami pun berjabat tangan dan berkenalan satu sama lain. Mereka berasal dari jambi tadi pagi hanya untuk menikmati keindahan pegunungan dempo. Kamipun memutuskan untuk pergi jalan terlebih dahulu dikarenakan waktu yang tidak banyak. Salam kerinci dari mereka membawa kami melangkah lebih cepat.

Satu jam perjalanan membuat kaki sudah berasa berat, memaksa kami berhenti di shelter 1 untuk beristirahat,mengatur nafas dan membuat kesepakatan lagi. Apa ? saya mentargetkan akan sampai puncak sekitar pukul 1 siang, jika kami tidak bisa sampai pukul 1, maka kami harus segera turun. Karena untuk sampai di puncak dempo membutuhkan waktu sekitar 5 jam rata-rata. Dan untuk turun, membutuhkan waktu paling tidak, satu jam lebih cepat dari mendaki. Jadi, jika kami sampai puncak sekitar pukul 1, kami bisa sampai di posko awal pendakian sekitar pukul 4.  Dan bisa pulang kerumah dengan menumpang mobil uwak yang satu dusun dengan nenek saya. Karena ojek ataupun transportasi lainnya tidak pernah sampai ke sekitaran posko, kecuali jika kita menyewa. Akhirnya 2 teman saya mengiyakan. 

Waktu menunjukkan pukul 11 siang sementara kami masih punya waktu sekitar dua jam untuk bisa kepuncak. Tak ada kendala apapun di perjalanan hanya saja kami kehabisan minuman, karena cuma membawa 2 botol dan itupun sudah dipakai sedikit buat merebus mi instan di shelter . dan setelahnya aman-aman saja selama kurang lebih 3 jam. Namun cuaca semakin mendung saat itu, kami pun tak banyak bicara apalagi mengeluh dan berucap kotor. Kami hanya melantunkan doa dalam hati yang mengiringi setiap langkah kaki dari shelter pertama. Sebab gunung adalah tempat yang masih menyimpan sisi mistis masing-masing. Termasuk Gunung dempo yang juga terkenal dengan mistis manusia harimau (puyang). Uwak saya yang dirumah nenek pernah memberi sedikit arahan sebelum mendaki gunung dempo ini, karena banyak sekali kejadian yang beliau ceritakan tentang kemistisan gunung tersebut. Dari pendaki yang tersesat, pendaki yang ditemani makhluk lain sewaktu sedang mendaki, dan masih banyak lagi kejadian ganjil yang tidak bisa dilogikakan dengan nalar manusi. Maka dari itu sebagai pendaki kita tidak boleh asal bicara, hati kita memang harus benar-benar bersih. Kami hanya berpegangan pada allah bahwa kami mendaki gunung bukan untuk hal lain, selain melihat kuasanya. Itulah niatan pertama kami sebelum mendaki. Masalah kejadian apapun yang akan terjadi nantinya di gunung, kami telah berpasrah diri kepadaNya. Allah sang pencipta.

minum di genangan air

Tiba dihutan yang kering, bekas kebakaran besar di tahun 2015 lalu, kami memilih beristirahat lagi. Entah sudah berpa kali beristirhat, tapi yang pasti medan jalur semakin keatas semakin sulit, dihutan bekas terbakar itu kami dikelilingi kabut yang membuat jarak pandang terbatas, apalagi kir dan kanan jalur itu adalah jurang dari ketidak rataan badan gunung, kami hanya berjalan pelan dan sesekali berhenti. Beruntung rute di gunung ini tidak terlalu sulit. Tak banyak jalan bercabang, dan juga sebagian pohon ada yang diikat dengan tali rafia merah agar memudahkan arah para pendaki. Tapi semakin keatas jalur semakin menyulitkan sampai kami harus berpegangan dengan tali untuk melawati terjalnya jalan yang menanjak.


febri dihutan bekas kebakaran
Awi di hutan bekas kebakaran
ujung hutan bekas kebakaran

Satu jam lagi terlewatkan tanpa terasa, semua shelter sudah disinggahi hanya untuk sekedar beristirahat. Hutan bekas kebakaran pun telah habis disusuri. Mungkin ini bonus,jalan datar yang membuat kami makin semangat dan percaya bahwa puncak sudah dekat. 15 menit tanpa terasa setelah mencari jalur yang kami anggap benar, akhirnya sebuah plang tua berkarat bertuliskan top dempo 3159 MDPL membuat kami menghembuskan nafas panjang sambil berhamdallah.

Kami tiba di puncak tertinggi di sumatera selatan itu, membuat kami merinding, bahaga, tawa dan sedih bercampur keharuan. Tak bisa diduga langkah kaki membawa kami pada sebuah kuasa tuhan yang maha agung, membawa kami pada titik ketinggian karena terasa dekat dengan awan sekaligus membawa kami pada titik kerendahan karena merasa kecil dihadapannya. Dipuncak itu 3159 diatas permukaan laut kami merasa bukan lah apa-apa dibandingkan denganNya (allah). Kami hanya 3 onggok daging yang punya nama. Yang kemarin hanya bisa berangan untuk bisa berdiri di puncak gunung, akhirnya menjadi kenyataan. Tak bisa dipungkiri puncak itu benar-benar membuat kami ingin meneteskan air mata namun tertahan dengan bahagia. Membuat kami mengerti apa arti dari kesusahan. Puncak itu membuat kami tak akan bisa lupa dengan apa yang telah kami lewati. Membuat kami lewat mengerti menjadi manusia seutuhnya. Mungkin inilah hal mistis yang dilupakan oleh manusia tentang gunung. Ketika sebagian orang mengganggap gunung adalah tempat yang berbahaya, tempat mencari kematian,dan tempat bagi orang-orang yang sudah bosan dengan hidupnya. Itu salah besar.itu tidak benar. Gunung membuat kita menjadi manusia yang lebih perasa, membuat kita menjadi manusia yang lebih bersyukur, membuat kita menjadi manusia yang lebih dari sekedar manusia. Puncak itu adalah adalah alasan mengapa aku harus menceritakan ini kepada orang lain. Tak ada tempat secanggih puncak gunung di zaman moderen ini. Meskipun saat itu kami hanya sampai di puncak dempo yang tanpa kawah dan berserakan sampah, hanya sebuah puncak dengan pohon disekelilingnya, tapi kami sangat bersyukur dengan pencapaian ini. Kami bersyukur telah menginjakkan kaki diatas sini. Kelak, saat aku punya keturunan, aku akan mengajaknya ke pegunungan ini, dan dari bawah gunung aku akan menceritakan dengannya sambil menunjuk kearah puncak ini, bahwa ayahnya sudah pernah berada disana. Dengan ditemani 2 orang teman yang tidak akan lupa masuk di dalam cerita itu.



Top Dempo 3159 MDPL

Top Dempo 3159 MDPL

Top Dempo 3159 MDPL

Top Dempo 3159

          Tugu rimau telah ramai pengunjung hanya yang datang hanya untuk berlibur diakhir pekan dan berfoto ria dengan latar belakang kebun teh di ketinggian atau juga berlatar plang raksasa bertuliskan Pagaralam layaknya meyurupai plang raksasa HOLLYWOOD. Kami yang telah 4 jam berjalan menuruni terjalnya, apalagi hujan diatas membuat jalur jadi licin, membuat kami berhati hati dalam melangkah, karena kami juga membawa sedikit sampah turun dari atas puncak dengan kantong plastik. Lumayan buat membersihkan sedikit sampah di gunung meskipun hanya satu kantong platik setiap orang, setidaknya kita mesti sadar akan kebersihan gunung, bukan malah membuang sampah di gunung. Ingat, gunung bukan tempat sampah.
Tugu rimau membuat kami merasa lega karena telah sampai puncak dan turun dengan selamat. Sebagian orang melihat kami pennuh lirik dengan satu kantong plastik berisi sampah ditangan, celana, baju dan sepatu yang basah bercampur bercak. Kami hanya memasang wajah lega. Sampah telah dibuang dan kami segera menemui uwak penjaga pos untuk melapor karena telah turun dengan selamat. Kami menyalaminya dan memberitahu bahwa kami telah sampai dari top dempo dan memberi laporan bahwa tidak terjadi apa-apa. Beliau pun mengucapkan selamat kepada kami karena telah turun dengan selamat.

          Waktu menunjukkan pukul 5 sore hampir satu jam setelah sampai di bawah dan mandi di posko dengan air yang sangat dingin bak es batu yang mencair. Kami akhirnya mebereskan tenda dan peralatan lainnya, untuk bergegas pulang. Setelah peralatan selesai diringkas dan tas carrier yang terasa makin penuh dari sebelumnya. Kamipun meminta izin kepada uwak yang terikat keluarga dengan saya untuk meminta izin agar bisa diberi tumpangan mobilnya sewaktu pulang. Akhirnya ia mengiyakan. Kamipun menunggu di pintu masuk kawasan posko bersama bang edi, teman akrab kami sewaktu gagal mendaki kemarin. Mereka berencana pulang pukul 6 sore karena di akhir pekan memang ramai pengunjung, jadi mereka pulang lebih lama dari hari biasanya. Kami pun akhirnya membanu bang edi menunggu pintu masuk kawasan tugu rimau. Biaya untuk masuk ke kawasan tugu rimau cukup murah. Untuk mobil 10 ribu rupiah dan motor 5 ribu rupiah, sudah termasuk parkir. Orang-orang yang berjualan di sekitaran tugu rimau sudah sangat akrab dengan kami dari hari pertama kami tiba disini. Bagaimana tidak, hanya kami yang mendaki disini karena pendakian ditutup. Jadi mereka lebih mudah mengenal kami dan begitu pun sebaliknya. 2 hari itu benar-benar berharga dan banyak cerita, hingga kami tak enggan untuk pergi meninggkalkan hal-hal yang dilewatinya.

         Kepulangan kami menjadi transisi antara siang dan malam. Melewati indahnya hamparan kebun teh dempo sedikit banyak menghilangkan penat yang tubuh dan kaki yang sudah berjalan selama 8 jam. Dempo adalah salah satu cerita terhebat yang selalu tearsipkan tanpa lekang dimakan zaman.

terima kasih untuk 2 orang bocah ajaib febri dan awi yang telah jadi bagian dari cerita ini, semoga kita bisa menjelajah lebih banyak lagi gunung ataupun alam indah lainnya di indonesia.
Reactions

Post a Comment

0 Comments